Selasa, 30 Oktober 2012

Belum Jadi Bangsa Pembaca Buku



Belum Jadi Bangsa Pembaca Buku
Oleh Asep Gunawan*

Octavio Paz (1903-1998) berujar ketika dalam pidato penerimaan nobel sastranya, tahun 1990, bahwa membaca buku baginya merupakan aktivitas melawan pemborosan atau penghamburan waktu. Di dalamnya ada praktek konsentrasi mental dan moral yang menuntun kita ke dalam dunia yang tidak atau belum kita ketahui. Bagi Octavio Paz, membaca menjadi aktivitas yang tak pernah bosan-bosan ia lakukan.
Di masa Islam abad pertengahan, aktivitas membaca menjadi sebuah keharusan. Seperti Syekh Nawawi Al-Bantani yang sering menghabiskan malam-malamnya dengan membaca dan menulis buku. Pun para ulama, ketika sebelum memutuskan suatu perkara, mereka selalu membuka dan membaca kitab-kitab ulama terdahulunya untuk kemudian mengutip dan mengakurkannya dengan Qur’an dan Hadits, sebelum memutuskan fatwa. Dengan terlebih dahulu membaca, mereka menghindari suatu tindakkan yang tak diketahui sebelumnya.
Tradisi membaca jaman Islam dulu itu, sekarang malah banyak diadopsi di negara-negara yang mayoritas warganya non-muslim. Negara-negara maju seperti Prancis, Inggris, Jerman dan Jepang sudah sadar betul akan nilai guna dari aktivitas membaca buku. Walau pun dengan industrialisasi yang begitu mobile — yang membuat mereka jadi super sibuk dan tak punya banyak waktu —aktivitas membaca buku selalu mereka selipkan di sela-sela waktu luang seperti ketika menunggu bis, atau kereta di stasiun. 
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Jika ukurannya adalah aktivitas membaca tadi, maka pantas saja peradaban Indonesia cenderung jalan ditempat— jika tak mau dibilang mundur. Pentingnya membaca buku itu belum terlalu dirasa urgen di Indonesia sekarang ini. Aktivitas membaca buku menjadi hal yang masih dirasa asing bagi kebanyakan orang, baik di desa ataupun di kota. Beberapa waktu belakangan ini, kebiasaan membaca buku sukses tergantikan oleh kebiasaan membaca sms atau membaca status-status di facebook atau jejaring sosial lainnya.
Anggapan yang masih kental di pikiran kita tentang membaca buku, bahwasannya membaca buku hanya membuang-buang waktu belaka, dan cenderung lebih terlihat sebagai aktivitas yang tidak produktif. Hal ini diperkuat dengan masih sangat langkanya melihat orang-orang asyik dengan bukunya di tempat-tempat umum (terbuka). Kebanyakan mata kita akan disuguhi pemandangan orang-orang yang asyik dengan gadget-nya.
Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2009, yang dirilis untuk mengetahui seberapa besar minat penduduk terhadap membaca. Survei dilakukan kepada penduduk yang berusia 10 tahun ke atas. Hasilnya sungguh mengejutkan, hanya 18,94 persen yang menyenangi aktivitas membaca buku, surat kabar atau majalah. Lemahnya minat baca tersebut otomatis berpengaruh pada kualitas manusia Indonesia sendiri. Berdasarkan Human Development Index (HDI) tahun 2011 yang dikeluarkan The United Nations Development Program (UNDP) Indonesia berada di posisi 124 sebagai negara yang kualitas manusianya rendah. Indonesia jauh berada di bawah negara ASEAN lainnya, di mana Singapore menempati posisi ke-26, Brunei ke-33, Malaysia ke-61, Thailand ke-103, dan Filipina ke-112. Memang benar dari realitas sekarang, kita belum terlalu akrab dengan aktivitas membaca buku. Dari pagi hingga malam, raga dan pikiran kita hanya disibukan dengan urusan materi, hingga seolah tak memberikan ruang dan waktu sedikit pun untuk membaca.
Padahal, sebagaimana diungkapkan Quraish Shihab (2007), bahwa membaca adalah sebuah aktifitas utama yang menyokong peradaban  bangsa. Majunya peradaban suatu bangsa bisa diukur dari seberapa sering manusianya membaca.  Apalagi jika dilihat dari kacamata Islam, ayat pertama yang turun kepada Muhammad adalah diksi “Iqra” (baca), artinya semua hal di dunia ini harus dimulai dari aktivitas membaca. Karena  membaca merupakan aktivitas berpikir yang membuat kita tahu, sadar, dan mampu membawa pemikiran kita ke arah yang lebih terang. kurang etis rasanya, ketika kesibukanlah yang menjadi alasan utama kita melupakan aktivitas membaca. Jika manusia Indonesia sudah akrab dengan membaca, maka hanya tinggal menunggu waktu saja bagi kita, untuk terlepas dari belenggu krisis multidimensi dan menjadi negara maju. (Dimuat di buletin 'Suaka')

Penulis, Aktivis Indonesia Literacy Community , eksponen Sasaka dan FAS (Forum Alternatif Sastra)Bandung




1 komentar: