Belum Jadi Bangsa Pembaca Buku
Oleh Asep Gunawan*
Octavio Paz (1903-1998) berujar ketika dalam
pidato penerimaan nobel sastranya, tahun 1990, bahwa membaca buku baginya
merupakan aktivitas melawan pemborosan atau penghamburan waktu. Di dalamnya ada
praktek konsentrasi mental dan moral yang menuntun kita ke dalam dunia yang
tidak atau belum kita ketahui. Bagi Octavio Paz, membaca menjadi aktivitas yang
tak pernah bosan-bosan ia lakukan.
Di masa
Islam abad pertengahan, aktivitas membaca menjadi sebuah keharusan. Seperti
Syekh Nawawi Al-Bantani yang sering menghabiskan malam-malamnya dengan membaca
dan menulis buku. Pun para ulama, ketika sebelum memutuskan suatu perkara,
mereka selalu membuka dan membaca kitab-kitab ulama terdahulunya untuk kemudian
mengutip dan mengakurkannya dengan Qur’an dan Hadits, sebelum memutuskan fatwa.
Dengan terlebih dahulu membaca, mereka menghindari suatu tindakkan yang tak
diketahui sebelumnya.
Tradisi membaca
jaman Islam dulu itu, sekarang malah banyak diadopsi di negara-negara yang
mayoritas warganya non-muslim. Negara-negara maju seperti Prancis, Inggris,
Jerman dan Jepang sudah sadar betul akan nilai guna dari aktivitas membaca buku.
Walau pun dengan industrialisasi yang begitu mobile — yang membuat mereka jadi super sibuk dan tak punya banyak
waktu —aktivitas membaca buku selalu mereka selipkan di sela-sela waktu luang
seperti ketika menunggu bis, atau kereta di stasiun.
Lalu
bagaimana dengan Indonesia? Jika ukurannya adalah aktivitas membaca tadi, maka
pantas saja peradaban Indonesia cenderung jalan ditempat— jika tak mau dibilang
mundur. Pentingnya membaca buku itu belum terlalu dirasa urgen di Indonesia
sekarang ini. Aktivitas membaca buku menjadi hal yang masih dirasa asing bagi
kebanyakan orang, baik di desa ataupun di kota. Beberapa
waktu belakangan ini, kebiasaan membaca buku sukses tergantikan oleh kebiasaan
membaca sms atau membaca status-status di facebook atau jejaring sosial lainnya.
Anggapan
yang masih kental di pikiran kita tentang membaca buku, bahwasannya membaca buku
hanya membuang-buang waktu belaka, dan cenderung lebih terlihat sebagai aktivitas
yang tidak produktif. Hal ini diperkuat dengan masih sangat langkanya melihat
orang-orang asyik dengan bukunya di tempat-tempat umum (terbuka). Kebanyakan
mata kita akan disuguhi pemandangan orang-orang yang asyik dengan gadget-nya.
Hasil survei
Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2009, yang dirilis untuk mengetahui
seberapa besar minat penduduk terhadap membaca. Survei dilakukan kepada
penduduk yang berusia 10 tahun ke atas. Hasilnya sungguh mengejutkan, hanya
18,94 persen yang menyenangi aktivitas membaca buku, surat kabar atau majalah.
Lemahnya minat baca tersebut otomatis berpengaruh pada kualitas manusia
Indonesia sendiri. Berdasarkan Human
Development Index (HDI) tahun 2011 yang dikeluarkan The United Nations Development Program (UNDP) Indonesia berada di
posisi 124 sebagai negara yang kualitas manusianya rendah. Indonesia jauh
berada di bawah negara ASEAN lainnya, di mana Singapore menempati posisi ke-26,
Brunei ke-33, Malaysia ke-61, Thailand ke-103, dan Filipina ke-112. Memang
benar dari realitas sekarang, kita belum terlalu akrab dengan aktivitas membaca
buku. Dari pagi hingga malam, raga dan pikiran kita hanya disibukan dengan urusan
materi, hingga seolah tak memberikan ruang dan waktu sedikit pun untuk membaca.
Padahal,
sebagaimana diungkapkan Quraish Shihab (2007), bahwa membaca adalah sebuah
aktifitas utama yang menyokong peradaban bangsa. Majunya peradaban suatu bangsa bisa
diukur dari seberapa sering manusianya membaca.
Apalagi jika dilihat dari kacamata Islam, ayat pertama yang turun kepada
Muhammad adalah diksi “Iqra” (baca), artinya semua hal di dunia ini harus
dimulai dari aktivitas membaca. Karena
membaca merupakan aktivitas berpikir yang membuat kita tahu, sadar, dan
mampu membawa pemikiran kita ke arah yang lebih terang. kurang etis rasanya,
ketika kesibukanlah yang menjadi alasan utama kita melupakan aktivitas membaca.
Jika manusia Indonesia sudah akrab dengan membaca, maka hanya tinggal menunggu
waktu saja bagi kita, untuk terlepas dari belenggu krisis multidimensi dan
menjadi negara maju. (Dimuat di buletin 'Suaka')
Penulis, Aktivis Indonesia Literacy Community , eksponen Sasaka dan FAS (Forum
Alternatif Sastra)Bandung
Agen Judi Bola
BalasHapusAgen Judi Online
Agen Judi
Agen Bola
Agen Sbobet
Agen Bola Ibcbet
Agen Casino Online
Agen Terpercaya
Agen Judi Terpercaya
Agen Judi Terbaik