Selasa, 30 Oktober 2012

Bahasa Politik yang Melangit




Bahasa Politik yang Melangit
Oleh Asep Gunawan
            Bahasa merupakan cerminan bangsa. Setiap bahasa mempunyai keunikan tersendiri yang mampu membedakan setiap bangsa dengan bangsa lain, dan bahkan setiap individu yang satu dengan individu yang lain. Ada sebuah konsep bahasa yang diatur dalam pikiran seseorang, sebelum ia menyampaikan konsep tersebut dalam bahasa yang ia pilih. Atau kalau meminjam istilah Ferdinand de Saussure (1857-1913), konsep itu disebut langue, dan apa yang diujarkan, itulah yang disebut dengan parole.
            Dalam sebuah acara televisi kita sering melihat para politisi berbincang dengan sesama politisi (sederajat) atau dengan yang bukan politisi (orang biasa). Di tengah perbincangan itu, sekali-kali dahi kita mengerut ketika terlontar beberapa kata/ istilah yang masih asing di telinga—kata atau istilah yang belum terlacak pemaknaannya bagi masyarakat menengah ke bawah. Entah ada motif apa ketika berbicara di depan televisi para politisi itu akan selalu cenderung menyelipkan kata atau istilah asing (serapan) di sela-sela omongannya.
            Kata atau istilah itu biasanya diserap dari bahasa asing—terutama bahasa Inggris. Kata-kata yang lazim dan biasa terdengar dari para politisi itu misalnya: kondusif dari kata condusif (Inggris) yang artinya bersifat mendukung; rumor sama dengan bentuk Inggris-nya yang artinya desas-desus; transparansi dari kata transparence (inggris) yang artinya tembus pandang atau jernih; arogan dari kata arrogant (Inggris) yang berarti pongah/sombong; rekonsiliasi dari kata reconciliation (Inggris) yang artinya pemulihan keadaan semula.
            Yang menjadi pertanyaan apakah yang melandasi sang pengujar (politisi) untuk memakai istilah serapan asing dalam pembicaraan mereka? Dalam telaah psikolinguistik, Daniel Parera (1986) mengungkapkan bahwa, dalam setiap kata atau bahasa yang diungkapkan seseorang, selalu ada hubungan antara kemampuan sensori dan kemampuan intelektual sang pengujarnya. Jadi, ketika seseorang berujar, ada semacam desakan psikologis yang menuntut si pengujarnya untuk memberikan citraan yang lebih baik daripada sang pendengar melalui pemakaian bahasa yang dipilihnya.  Ada prestise tersendiri ketika sang pengujar menggunakan bahasa asing (serapan), maka ia akan lebih terlihat terpelajar yang berujung pada harapan akan pencitraan positif diri.
            Tampaknya hasrat pribadi bisa mengalahkan kelaziman dan keaslian bahasa sebuah bangsa. Sekarang ini, orang lebih suka menggunakan bahasa asing yang sudah di-Indonesia-kan, dibanding menggunakan bahasa Indonesia sendiri. Contohnya untuk kata sophisticated (inggris) orang senang mengindonesiakannya menjadi sofistikasi, bukan dengan canggih. Begitu juga orang lebih senang menyebut kata solid (inggris) daripada kata kukuh, atau pun kata solusi daripada memakai kata pemecahan.
            Dalam sebuah diskusi perihal kebahasaan, penyair Taufik Ismail pun menyayangkan perihal banyaknya orang dalam televisi yang lebih memilih memakai bahasa asing (Inggris)dibanding bahasa Indonesia sendiri. Cengkeraman bahasa Inggris yang begitu kuat itu bisa terjadi karena, bangsa kita yang cenderung minder, rendah diri, bersikap udik, dan suka menunduk-nunduk itulah yang teramat kuat. Bangganya pemakaian terhadap bahasa asing ini, lama-kelamaan bisa mengancam ‘kehidupan’ bahasa lokal sendiri. Ketika orang lebih memilih bahasa asing, tentu saja hal itu bisa menularkan mental bangga ber-Inggris-inggris ria itu pada pendengarnya. Sehingga generasi muda akan cenderung lebih akrab dengan bahasa-bahasa serapan (Inggris) dibanding dengan kosa-kata bahasa Indonesia yang jauh lebih banyak dan variatif.
            Sesungguhnya jika kita sadar untuk mengembangkan dan memelihara bahasa nasional, tak ada pilihan lain kecuali kita memilih kata-kata bahasa Indonesia sendiri. Sebuah pengecualian untuk menggunakan bahasa asing, ketika tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Sikap mau memilih kata Indonesia dan bangga memakainya akan memperlihatkan jati-diri bangsa Indonesia yang sadar akan kekayaan budayanya.
(Dimuat di kolom 'Wisata Bahasa' (Khazanah) Pikiran Rakyat)


Penulis, Penelaah Linguistik. Alumnus Bahasa dan Sastra Inggris UIN Bandung


Tidak ada komentar:

Posting Komentar