Bahasa Politik yang Melangit
Oleh Asep Gunawan
Bahasa merupakan cerminan bangsa.
Setiap bahasa mempunyai keunikan tersendiri yang mampu membedakan setiap bangsa
dengan bangsa lain, dan bahkan setiap individu yang satu dengan individu yang
lain. Ada sebuah konsep bahasa yang diatur dalam pikiran seseorang, sebelum ia
menyampaikan konsep tersebut dalam bahasa yang ia pilih. Atau kalau meminjam
istilah Ferdinand de Saussure (1857-1913), konsep itu disebut langue, dan apa yang diujarkan, itulah
yang disebut dengan parole.
Dalam sebuah acara televisi kita
sering melihat para politisi berbincang dengan sesama politisi (sederajat) atau
dengan yang bukan politisi (orang biasa). Di tengah perbincangan itu,
sekali-kali dahi kita mengerut ketika terlontar beberapa kata/ istilah yang
masih asing di telinga—kata atau istilah yang belum terlacak pemaknaannya bagi
masyarakat menengah ke bawah. Entah ada motif apa ketika berbicara di depan televisi
para politisi itu akan selalu cenderung menyelipkan kata atau istilah asing
(serapan) di sela-sela omongannya.
Kata atau istilah itu biasanya
diserap dari bahasa asing—terutama bahasa Inggris. Kata-kata yang lazim dan
biasa terdengar dari para politisi itu misalnya: kondusif dari kata condusif (Inggris)
yang artinya bersifat mendukung; rumor
sama dengan bentuk Inggris-nya yang
artinya desas-desus; transparansi dari
kata transparence (inggris) yang
artinya tembus pandang atau jernih; arogan
dari kata arrogant (Inggris) yang
berarti pongah/sombong; rekonsiliasi dari
kata reconciliation (Inggris) yang
artinya pemulihan keadaan semula.
Yang menjadi pertanyaan apakah yang
melandasi sang pengujar (politisi) untuk memakai istilah serapan asing dalam
pembicaraan mereka? Dalam telaah psikolinguistik, Daniel Parera (1986) mengungkapkan
bahwa, dalam setiap kata atau bahasa yang diungkapkan seseorang, selalu ada
hubungan antara kemampuan sensori dan kemampuan intelektual sang pengujarnya. Jadi,
ketika seseorang berujar, ada semacam desakan psikologis yang menuntut si
pengujarnya untuk memberikan citraan yang lebih baik daripada sang pendengar
melalui pemakaian bahasa yang dipilihnya.
Ada prestise tersendiri ketika
sang pengujar menggunakan bahasa asing (serapan), maka ia akan lebih terlihat
terpelajar yang berujung pada harapan akan pencitraan positif diri.
Tampaknya hasrat pribadi bisa
mengalahkan kelaziman dan keaslian bahasa sebuah bangsa. Sekarang ini, orang
lebih suka menggunakan bahasa asing yang sudah di-Indonesia-kan, dibanding
menggunakan bahasa Indonesia sendiri. Contohnya untuk kata sophisticated (inggris) orang senang mengindonesiakannya menjadi sofistikasi, bukan dengan canggih. Begitu juga orang lebih senang
menyebut kata solid (inggris)
daripada kata kukuh, atau pun kata solusi daripada memakai kata pemecahan.
Dalam sebuah diskusi perihal
kebahasaan, penyair Taufik Ismail pun menyayangkan perihal banyaknya orang
dalam televisi yang lebih memilih memakai bahasa asing (Inggris)dibanding
bahasa Indonesia sendiri. Cengkeraman bahasa Inggris yang begitu kuat itu bisa
terjadi karena, bangsa kita yang cenderung minder, rendah diri, bersikap udik,
dan suka menunduk-nunduk itulah yang teramat kuat. Bangganya pemakaian terhadap
bahasa asing ini, lama-kelamaan bisa mengancam ‘kehidupan’ bahasa lokal
sendiri. Ketika orang lebih memilih bahasa asing, tentu saja hal itu bisa
menularkan mental bangga ber-Inggris-inggris ria itu pada pendengarnya.
Sehingga generasi muda akan cenderung lebih akrab dengan bahasa-bahasa serapan
(Inggris) dibanding dengan kosa-kata bahasa Indonesia yang jauh lebih banyak
dan variatif.
Sesungguhnya jika kita sadar
untuk mengembangkan dan memelihara bahasa nasional, tak ada pilihan lain
kecuali kita memilih kata-kata bahasa Indonesia sendiri. Sebuah pengecualian
untuk menggunakan bahasa asing, ketika tidak ada padanannya dalam bahasa
Indonesia. Sikap mau memilih kata Indonesia dan bangga memakainya akan
memperlihatkan jati-diri bangsa Indonesia yang sadar akan kekayaan budayanya.
(Dimuat di kolom 'Wisata Bahasa' (Khazanah) Pikiran Rakyat)
(Dimuat di kolom 'Wisata Bahasa' (Khazanah) Pikiran Rakyat)
Penulis, Penelaah Linguistik. Alumnus Bahasa dan
Sastra Inggris UIN Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar