Tamu Menjelang Gelap
Cerpen Asep Gunawan*
Seperti pagi biasanya. Matahari
masih cerah membangunkanku dari jendela. Pintu hijau itu tak henti meraung
diketuk ibu kos. Ini tanggal 21. Pertanda 50 ribu harus kukeluarkan mengganti
beban listrik dan air yang kupakai mandi dan berak. Di luar, pedagang gorengan
terus meneriakan bawaannya. Berterika keras, mencari beberapa rupiah. Teriakan
yang membuat insyaf manusia di sini. Terbangun, setelah semalaman menemani
manusia beradu di lapangan bola. Tak ada yang beda. Semua masih sama. Kemarin,
esok atau lusa. Masih dengan gumam serupa.
Karpet hijauku, masih ditumpuki
abu roko. Bungkus merahnya berserakan berdampingan mesra dengan buku yang tak
kalah berantakan. Rokok yang dibungkus
kotak merah berlambang jarum keemasan. Merah yang berani. Merah yang katanya keras
dan kejam. Tak salah bungkusnya merah. Karena aku tahu, tembakau yang selalu
merangsak masuk ke tubuhku, perlahan menggasak raga ini. Paru-paru membiru.
Tubuhku lemas, tak kuasa diterjang Tar
dan Nikotin. Tubuhku mengering, tulang semakin menonjol. Rusukku
semakin jelas, setiap kaos oblongku membesar. Bukan, tepatnya tubuhku yang
semakin kurus. Tapi rokok tak membuatku kurus, tak membuat ragaku serupa
mereka; para penderita gizi buruk di Somalia.
Tiba-tiba aku teringat Musa; sang
nabi Bani Israil. Dia bersabda, ‘kematian serupa kambing yang dikuliti
hidup-hidup’. Spontan kudukku berdiri ketika terbayang wajah seramnya, serta
jerit manusia kala melihatnya. Aku tahu, suatu hari manusia pasti bertemu
dengannya, wujud yang menakutkan. Menebar teror setiap saat. Di jalan, di
gedung, atau bahkan kamar ini pun bisa jadi tempatku bertemu dengannya. Entah
pagi, tengah hari atau senja. Yang pasti waktu takkan meringankan sayat
pedihnya.
Kenapa aku berbicara tentangnya.
Tentang ia, yang semakin mendekat. Apa yang harus kulakukan. Bersembunyi? Itu
tak fungsi. Ia sanggup menjelma motor yang melaju kencang, tembok roboh, bumi
terbelah, atau racun paling mematikan. Mungkin Socrates pun sama. Dalam ruang
sunyi dia menunggu tamunya itu. Socrates tahu pasti, tamunya bisa menjelma apa pun. Yang paling pasti
di depan, tamunya menjelma kapak atau Guillotine*,
dan siap menghunus leher, lalu terpisahlah raga dan wajah buruknya. Namun
Socrates memilih berdamai dengannya. Ia bernegosiasi. Ia pilih racun yang
takkan kuasa memisahkan kepala dan raganya. Ia masih beruntung. Ia memiilih telentang kaku di ruang gelap dengan
raga utuh. Tamunya selalu memberi pilihan.
Tak serupa Jenar. Ia terlalu
besar kepala. Ia angkuh. Pantas mungkin ia dipenggal. Memisahkan raga dan
jiwanya. Memisahkan ajarannya dengan manusia. Ajaran yang tak sejalan dengan
tujuh temannya. Ia terpenggal. Ia meninggal. Meninggalkan manunggaling kawula gusti. Jika Jenar bertemu Copernicus di surga
sana, mungkin saja mereka menjadi teman akrab. Berbincang hangat tentang
pengalaman dunia. Tentang bagaimana
mereka bertemu tamu mereka. Sesekali mereka akan tertawa. Melihat wajah hitam
lebam tamunya itu, yang tersenyum ketus ketika bertegur-sapa , lalu dengan
kejam menghunus aritnya. Membelah jiwa mereka, lalu mengantarnya ke langit,
meninggalkan raga yang bersimbah darah.
Sudahlah aku tak mau berbicara
tentangnya lagi. Yang pasti tiga hari ini ada yang mengganjal sesak di dadaku.
Mengganggu pikirku. Siapa sebenarnya aku? Untuk apa aku hidup? Tanya itu selalu
menjelma, berkelindan setiap malam kala ku tak terjaga. Di mana bisa kutemukan jawabnya? Aku yakin
sekarang tak satu dukun pun akan tahu. Bahkan sampai Pram pun meninggal,
pertanyaan itu masih mengantarkannya pada ruang kepenasaran, yang entah sampai
kapan tabir jawabnya terbuka.
HP-ku berbunyi. Deringnya menarikku
kembali pada ranah sadar. Ibuku di sana menunggu. Menunggu suaraku hari ini.
aku masih seperti yang dulu. Menjawab semua pertanyaannya dengan palsu. Entah,
aku tak tahu dengan jawaban yang seperti apa yang harus kuberikan pada sosok
wanita tua itu. Tiap hari, tiap pagi ia menghubungiku. Masih dengan harap yang
sama. Mendengar suaraku yang segar. Suara laiknya seorang anak pada ibunya. Dia
masih melontarkan pertanyaan serupa. Tak jauh beda, akupun masih dengan jawab
yang sama; Kebohongan.
Assalamuaikum!!
De, kamu baru bangun? Mamah udah telpon kamu dari jam 6. Nadanya serius
Iya,
Mah. Tadi malam nonton bola sampai subuh. Nadaku cukup meyakinkan.
Bulan ini di Eropa berlangsung
pesta bola. Semua orang di dunia merayankannya. Tak terkecuali di pelosok desaku
di sana. Namun bagiku tak berpengaruh apa-apa. Aku tak begitu cinta bola.
Kamu
kok nonton bola terus? Ingat De, kamu kan harus bangun pagi buat kuliah. Lagi
pula bergadang terus, bikin tubuh kamu rentan terkena penyakit.
Iya
mah, Ade gak kesiangan kok. Lagian sekarang kuliah jadwalnya gak ada yang pagi.
Semuanya ba’da dzuhur. Aku
kembali mengarang.
Ya
udah kamu sehat-sehat aja kan? Malam tadi mamah ngerasa gak enak hati terus De,
Makanya dari jam 6 mamah udah teleponin kamu. Nada ibuku menjadi gemetar. Dia
menjadi sedikit gugup dan takut.
Sehat
kok mah, cuma agak batuk ja. Mungkin karena akhir-akhir ini sering makan es.
Ya
udah, jaga diri kamu baik-baik. Nanti kamu jangan lupa makan obat. Kalau uang
kamu habis, segera sms mamah. Nanti mamah langsung transfer. Ia selalu dengan sifat
protektifnya.
Iya
mah, tenang ja uang masih ada.
Dia menutup teleponya dengan
salam. Mungkin suaraku tadi akan sedikit membuat takutnya reda. Iya, itulah
yang kuharapkan, ia akan kembali tak diselimuti resah, dan ketenangan akan
membuat ia semangat lagi menjalani hari di sana. Di rumah.
Apa yang kurang dariku. Hampir
semuanya ada. Dari semua yang kupakai itu tak biasa. Bagi ukuran anak muda,
mungkin aku agak beda. Dari tunggangan yang kupakai ke kampus sampai gaya
hidupku, kurasa itu sempurna. Hampir tiap malam tempatku hangout adalah kafe.
Kuhabiskan malam bersama mereka, temanku. Bermain bilyard atau sekedar karaoke
berjam-jam. Di desaku tak kutemui hidup
seperti ini. Di sini, semuanya beda. Aku seolah menggila.
***
Pernah aku beberapa hari terkapar
di rumah sakit. Menjalani sebagian waktuku sebagai ‘tamu’ di sana. Sebagaimana
tamu, aku mendapat perhatian lebih: aku dimanja. Namun tamu pun punya hak untuk
tak betah berlama. Siapa pun akan mengamininya. Senyaman dan semewah pelayanan
rumah sakit apa pun, tetap bukan tempat yang enak untuk ditinggali
berlama-lama. Suasana yang selalu memberikan aura tak enak sering kurasa di
sana.
Aku tiba-tiba tergeletak tak
sadarkan diri, ketika aku sedang menjalani kuliah siang hari. Waktu itu aku
masih ingat, mata kuliah “menulis’. Hanya sampai di situ saja memoriku. Karena,
setelah itu aku, terbangunkan di ruang harum obat — di ranjang putih bersih. Badanku
sudah lemas-kaku, dengan tangan tertusuk jarum infus. Entah berapa hari aku tak
sadar. Tak ada seorangpun di sisiku. Di pojok kananku, hanya seorang suster
yang sedang sibuk membereskan ranjang dan seprai, selepas sang empunya pulang
atau mati mungkin.
Sebelum pamit pulang. Aku
berjalan mengitari ruang lain. Ruang sesak yang dipenuhi mereka; orang –orang
sakit. Entah apa yang berkelindan di pikiran mereka, sebenarnya. Mereka laiknya
tamasya saja. berkumpul, makan-makan sambil sesekali melepas tawa bersama.
Gila, ini serupa ruangan sukacita. Namun
seorang wanita renta tergolek tidur di pojok dekat ruangan yang dijadikan
mushola. Dia beralaskan koran dan kain samping. Aku duduk di ruang tunggu itu.
Ruang tempat mereka yang belum mendapat kamar rawat. Pihak rumah sakit berapolozi
semua kamar telah terisi penuh. Salah satunya si ibu yang aku tak tahu namanya.
Dia tersadar entah karena apa. Dia terkaget, setelah di kursi dekat ia tidur,
ada aku yang melihatnya. Dia terkejut. Mungkin segan atau malu.
Senyum. Itu ekspresi pertama yang
ia tunjukan padaku. Wajahnya tak menunjukan rasa sakit, tertutupi setiap senyum
yang ia lemparkan begitu sering. Dia agak gugup, mencari tas hitamnya, lalu ia
tarik sebotol air putih. Air yang diisi ulang nampaknya, botol itu sudah terlihat
usang, mereknya sudah samar terlihat. Dia meneguknya, mengalirkan air ke dalam
tenggorokannya, hingga setengah botol ia sisakan. Ia kembali mencari dan
meraba-raba ke dalam tasnya. Tak ada yang ia keluarkan, wajahnya menunjukan
kekecewaan. Ia melihat ke sekeliling orang. Banyak orang berkerumun di alas
masing-masing, membentuk kelompok. Ruang itu pun sesak, hanya bagian tengah
yang tak mereka tempati. Tiap sudut: di kiri, kanan, depan dan belakang
berkumpul orang. Hingga tak jelas siapa yang sakit— siapa yang mereka tunggui.
Dia duduk bersandar ke belakang, ke pundak kursi yang dianyam dari rotan. dia
lemparkan tatapan kosongnya. Dia melamun kembali.
Bu
dari mana? Tanyaku sok
akrab.
Dia kembali tersenyum sebelum
menjawab.
Oh,
ibu mah dari Majalengka, A. dia menjawab dengan akrab.
Dari
kapan ibu di sini? Aku dengan
iba menanyainya.
Sebenarnya
ibu sudah tiga kali ke sini. Tapi selalu saja tak kebagian ruangan. Ya, mungkin
beginilah nasib yang cuma bermodalkan Askeskin, A, harus menunggu lagi.
Ibaku bertambah. Emang ibu sakit apa? Aku semakin
penasaran.
Hehe,
ini A, ibu ada sedikit masalah di bagian payudara kiri ibu, kata dokter daerah
sih, katanya ibu kena kanker. Dia berujar sambil memegangi dada kirinya.
Sudah
berapa lama ibu merasakan penyakit itu? aku bertanya laiknya dokter yang memeriksa pasiennya, melalui
pertanyaan.
Cukup
lama A, sudah tiga belas tahun ibu sakit ini teh. Lagi-lagi ia melemparkan senyum
diakhir jawabannya.
Aku sedikit tersentak. Jawabannya
kembali membuatku termenung sejenak. Menyisakan hening sesaat di antara aku dan
dia. Ya, ibaku meninggi. Semakin memuncak. Dalam batinku, betapa kasihannya ia.
Seorang wanita tua dan tak mampu, harus menanggung penyakit berat. Cobaannya begitu
hebat.
Percakapanku tadi dengannya,
menyisakan sebuah tanya. Ya, senyumnya. Tentang senyum yang selalu ia
sombongkan padaku, di sela-sela pembicaraan. Senyum yang begitu ringan tanpa beban
untuk tetap melesat darinya. Meski dalam jiwanya ia mungkin menangis, karena
raganya yang renta —yang hampir habis, dimangsa penyakit sadis. Ada apa.
Ada apa sebenarnya? Aku memang
serupa seorang anak yang tak tahu apa-apa tentang dunia dan kehidupan. Tentang
begitu samarnya hidup, yang jawabnya sering tak kutemukan dalam banyak buku
yang kubaca. Tetap hampa. Aneh, apalagi yang harus kucari dan kupelajari. Itu
masih menjadi misteri diri.
***
Jam 17. 00, aku terbangun. Di
luar kamarku, mendung menghadang. Tak seorang pun tetangga kamarku terlihat di
luar. Bahkan tak ada suara speaker
yang biasa menggema seisi asrama. Mungkin karena mendung. Mereka enggan keluar,
lalu harus terkena angin yang cukup kencang. Badanku yang rengkuh, menggigil disapa
angin dari arah utara. Ke mana mereka?
Jam 17.15, aku lebih segar, setelah
dari malam tubuhku tak kuizinkan terkena air. Wajahku kembali bersih, walau
masih pasi. Di kaca kulihat, bulatan hitam di bawah mataku tak hilang disapu
air. Tulang pipiku semakin menonjol keluar, seolah kulit pipiku habis tenggelam
ke dalam. Kusisir rambutku yang masih kuyup. kurapihkan setiap helainya, yang
biasanya tak karuan di sekitar wajah. Lalu, kopiah merah muda itu, kuletakan
rapih menutupi ubun dan pinggir kuping. Sudah
lama, benda ini tak lagi menutupi kepalaku. Aku berbisik pada diri dalam
hati.
Kuambil, sarung yang menumpuk
rapi di atas lemari bukuku. Baunya masih sangat kuat. Sama dengan bau seluruh
pakaianku. Bau laundry langgananku. Lalu kemeja putih, yang selalu kusimpan,
karena begitu istimewa. Kusandingkan dengan sarung dan kopiah ini. aku tampak
bergitu berbeda petang itu. Entah ada apa. Aku ingin sholat dan menghadap-Nya
sekarang.
Aku duduk masih dengan posisi
sholatku terakhir. Tatapanku mengarah ke potret mesjid yang menempel di
sajadah. Entah, aku masih belum merasa tenang. Masih dengan getar hati yang tak
henti meluapkan tanya. Bibirku mulai kubasahi dengan Kalam-nya, agar batinku terisi kembali. Kulanggamkan pada-Nya
seluruh jiwa dan pikirku.
Ragaku melemah, dadaku bergetar.
Aku setengah sadar. Pintu itu perlahan terbuka. Tak bisa kulihat apapun. Di
luar begitu terang. Ragaku telentang tak menantang. Entah siapa dia yang
datang. Dia tersenyum riang. Selamat datang!!! *** (Dimuat di rubrik 'Khazanah' Pikiran Rakyat )
*) alat pancung pada masa revolusi Prancis.
Bandung, 18 Juni 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar