Selasa, 30 Oktober 2012

Cerpenku



Tamu Menjelang Gelap
Cerpen Asep Gunawan*

Seperti pagi biasanya. Matahari masih cerah membangunkanku dari jendela. Pintu hijau itu tak henti meraung diketuk ibu kos. Ini tanggal 21. Pertanda 50 ribu harus kukeluarkan mengganti beban listrik dan air yang kupakai mandi dan berak. Di luar, pedagang gorengan terus meneriakan bawaannya. Berterika keras, mencari beberapa rupiah. Teriakan yang membuat insyaf manusia di sini. Terbangun, setelah semalaman menemani manusia beradu di lapangan bola. Tak ada yang beda. Semua masih sama. Kemarin, esok atau lusa. Masih dengan gumam serupa.
Karpet hijauku, masih ditumpuki abu roko. Bungkus merahnya berserakan berdampingan mesra dengan buku yang tak kalah berantakan.  Rokok yang dibungkus kotak merah berlambang jarum keemasan. Merah yang berani. Merah yang katanya keras dan kejam. Tak salah bungkusnya merah. Karena aku tahu, tembakau yang selalu merangsak masuk ke tubuhku, perlahan menggasak raga ini. Paru-paru membiru. Tubuhku lemas, tak kuasa diterjang Tar dan Nikotin.  Tubuhku mengering, tulang semakin menonjol. Rusukku semakin jelas, setiap kaos oblongku membesar. Bukan, tepatnya tubuhku yang semakin kurus. Tapi rokok tak membuatku kurus, tak membuat ragaku serupa mereka; para penderita gizi buruk di Somalia.
Tiba-tiba aku teringat Musa; sang nabi Bani Israil. Dia bersabda, ‘kematian serupa kambing yang dikuliti hidup-hidup’. Spontan kudukku berdiri ketika terbayang wajah seramnya, serta jerit manusia kala melihatnya. Aku tahu, suatu hari manusia pasti bertemu dengannya, wujud yang menakutkan. Menebar teror setiap saat. Di jalan, di gedung, atau bahkan kamar ini pun bisa jadi tempatku bertemu dengannya. Entah pagi, tengah hari atau senja. Yang pasti waktu takkan meringankan sayat pedihnya.
Kenapa aku berbicara tentangnya. Tentang ia, yang semakin mendekat. Apa yang harus kulakukan. Bersembunyi? Itu tak fungsi. Ia sanggup menjelma motor yang melaju kencang, tembok roboh, bumi terbelah, atau racun paling mematikan. Mungkin Socrates pun sama. Dalam ruang sunyi dia menunggu tamunya itu. Socrates tahu pasti,  tamunya bisa menjelma apa pun. Yang paling pasti di depan, tamunya menjelma kapak atau Guillotine*, dan siap menghunus leher, lalu terpisahlah raga dan wajah buruknya. Namun Socrates memilih berdamai dengannya. Ia bernegosiasi. Ia pilih racun yang takkan kuasa memisahkan kepala dan raganya. Ia masih beruntung. Ia  memiilih telentang kaku di ruang gelap dengan raga utuh. Tamunya selalu memberi pilihan.
Tak serupa Jenar. Ia terlalu besar kepala. Ia angkuh. Pantas mungkin ia dipenggal. Memisahkan raga dan jiwanya. Memisahkan ajarannya dengan manusia. Ajaran yang tak sejalan dengan tujuh temannya. Ia terpenggal. Ia meninggal. Meninggalkan manunggaling kawula gusti. Jika Jenar bertemu Copernicus di surga sana, mungkin saja mereka menjadi teman akrab. Berbincang hangat tentang pengalaman dunia.  Tentang bagaimana mereka bertemu tamu mereka. Sesekali mereka akan tertawa. Melihat wajah hitam lebam tamunya itu, yang tersenyum ketus ketika bertegur-sapa , lalu dengan kejam menghunus aritnya. Membelah jiwa mereka, lalu mengantarnya ke langit, meninggalkan raga yang bersimbah darah.
Sudahlah aku tak mau berbicara tentangnya lagi. Yang pasti tiga hari ini ada yang mengganjal sesak di dadaku. Mengganggu pikirku. Siapa sebenarnya aku? Untuk apa aku hidup? Tanya itu selalu menjelma, berkelindan setiap malam kala ku tak terjaga.  Di mana bisa kutemukan jawabnya? Aku yakin sekarang tak satu dukun pun akan tahu. Bahkan sampai Pram pun meninggal, pertanyaan itu masih mengantarkannya pada ruang kepenasaran, yang entah sampai kapan tabir jawabnya terbuka.
HP-ku berbunyi. Deringnya menarikku kembali pada ranah sadar. Ibuku di sana menunggu. Menunggu suaraku hari ini. aku masih seperti yang dulu. Menjawab semua pertanyaannya dengan palsu. Entah, aku tak tahu dengan jawaban yang seperti apa yang harus kuberikan pada sosok wanita tua itu. Tiap hari, tiap pagi ia menghubungiku. Masih dengan harap yang sama. Mendengar suaraku yang segar. Suara laiknya seorang anak pada ibunya. Dia masih melontarkan pertanyaan serupa. Tak jauh beda, akupun masih dengan jawab yang sama; Kebohongan.
Assalamuaikum!! De, kamu baru bangun? Mamah udah telpon kamu dari jam 6. Nadanya serius
Iya, Mah. Tadi malam nonton bola sampai subuh. Nadaku cukup meyakinkan.
Bulan ini di Eropa berlangsung pesta bola. Semua orang di dunia merayankannya. Tak terkecuali di pelosok desaku di sana. Namun bagiku tak berpengaruh apa-apa. Aku tak begitu cinta bola.
Kamu kok nonton bola terus? Ingat De, kamu kan harus bangun pagi buat kuliah. Lagi pula bergadang terus, bikin tubuh kamu rentan terkena penyakit.
Iya mah, Ade gak kesiangan kok. Lagian sekarang kuliah jadwalnya gak ada yang pagi. Semuanya ba’da dzuhur. Aku kembali mengarang.
Ya udah kamu sehat-sehat aja kan? Malam tadi mamah ngerasa gak enak hati terus De, Makanya dari jam 6 mamah udah teleponin kamu. Nada ibuku menjadi gemetar. Dia menjadi sedikit gugup dan takut.
Sehat kok mah, cuma agak batuk ja. Mungkin karena akhir-akhir ini sering makan es.
Ya udah, jaga diri kamu baik-baik. Nanti kamu jangan lupa makan obat. Kalau uang kamu habis, segera sms mamah. Nanti mamah langsung transfer. Ia selalu dengan sifat protektifnya.
Iya mah, tenang ja uang masih ada.
Dia menutup teleponya dengan salam. Mungkin suaraku tadi akan sedikit membuat takutnya reda. Iya, itulah yang kuharapkan, ia akan kembali tak diselimuti resah, dan ketenangan akan membuat ia semangat lagi menjalani hari di sana. Di rumah.
Apa yang kurang dariku. Hampir semuanya ada. Dari semua yang kupakai itu tak biasa. Bagi ukuran anak muda, mungkin aku agak beda. Dari tunggangan yang kupakai ke kampus sampai gaya hidupku, kurasa itu sempurna. Hampir tiap malam tempatku hangout adalah kafe. Kuhabiskan malam bersama mereka, temanku. Bermain bilyard atau sekedar karaoke berjam-jam.  Di desaku tak kutemui hidup seperti ini. Di sini, semuanya beda. Aku seolah menggila.

***
Pernah aku beberapa hari terkapar di rumah sakit. Menjalani sebagian waktuku sebagai ‘tamu’ di sana. Sebagaimana tamu, aku mendapat perhatian lebih: aku dimanja. Namun tamu pun punya hak untuk tak betah berlama. Siapa pun akan mengamininya. Senyaman dan semewah pelayanan rumah sakit apa pun, tetap bukan tempat yang enak untuk ditinggali berlama-lama. Suasana yang selalu memberikan aura tak enak sering kurasa di sana.
Aku tiba-tiba tergeletak tak sadarkan diri, ketika aku sedang menjalani kuliah siang hari. Waktu itu aku masih ingat, mata kuliah “menulis’. Hanya sampai di situ saja memoriku. Karena, setelah itu aku, terbangunkan di ruang harum obat — di ranjang putih bersih. Badanku sudah lemas-kaku, dengan tangan tertusuk jarum infus. Entah berapa hari aku tak sadar. Tak ada seorangpun di sisiku. Di pojok kananku, hanya seorang suster yang sedang sibuk membereskan ranjang dan seprai, selepas sang empunya pulang atau mati mungkin.
Sebelum pamit pulang. Aku berjalan mengitari ruang lain. Ruang sesak yang dipenuhi mereka; orang –orang sakit. Entah apa yang berkelindan di pikiran mereka, sebenarnya. Mereka laiknya tamasya saja. berkumpul, makan-makan sambil sesekali melepas tawa bersama. Gila, ini serupa ruangan sukacita.  Namun seorang wanita renta tergolek tidur di pojok dekat ruangan yang dijadikan mushola. Dia beralaskan koran dan kain samping. Aku duduk di ruang tunggu itu. Ruang tempat mereka yang belum mendapat kamar rawat. Pihak rumah sakit berapolozi semua kamar telah terisi penuh. Salah satunya si ibu yang aku tak tahu namanya. Dia tersadar entah karena apa. Dia terkaget, setelah di kursi dekat ia tidur, ada aku yang melihatnya. Dia terkejut. Mungkin segan atau malu.
Senyum. Itu ekspresi pertama yang ia tunjukan padaku. Wajahnya tak menunjukan rasa sakit, tertutupi setiap senyum yang ia lemparkan begitu sering. Dia agak gugup, mencari tas hitamnya, lalu ia tarik sebotol air putih. Air yang diisi ulang nampaknya, botol itu sudah terlihat usang, mereknya sudah samar terlihat. Dia meneguknya, mengalirkan air ke dalam tenggorokannya, hingga setengah botol ia sisakan. Ia kembali mencari dan meraba-raba ke dalam tasnya. Tak ada yang ia keluarkan, wajahnya menunjukan kekecewaan. Ia melihat ke sekeliling orang. Banyak orang berkerumun di alas masing-masing, membentuk kelompok. Ruang itu pun sesak, hanya bagian tengah yang tak mereka tempati. Tiap sudut: di kiri, kanan, depan dan belakang berkumpul orang. Hingga tak jelas siapa yang sakit— siapa yang mereka tunggui. Dia duduk bersandar ke belakang, ke pundak kursi yang dianyam dari rotan. dia lemparkan tatapan kosongnya. Dia melamun kembali.
Bu dari mana? Tanyaku sok akrab.
Dia kembali tersenyum sebelum menjawab.
Oh, ibu mah dari Majalengka, A. dia menjawab dengan akrab.
Dari kapan ibu di sini? Aku dengan iba menanyainya.
Sebenarnya ibu sudah tiga kali ke sini. Tapi selalu saja tak kebagian ruangan. Ya, mungkin beginilah nasib yang cuma bermodalkan Askeskin, A, harus menunggu lagi.
Ibaku bertambah. Emang ibu sakit apa? Aku semakin penasaran.
Hehe, ini A, ibu ada sedikit masalah di bagian payudara kiri ibu, kata dokter daerah sih, katanya ibu kena kanker. Dia berujar sambil memegangi dada kirinya.
Sudah berapa lama ibu merasakan penyakit itu? aku bertanya laiknya dokter yang memeriksa pasiennya, melalui pertanyaan.
Cukup lama A, sudah tiga belas tahun ibu sakit ini teh. Lagi-lagi ia melemparkan senyum diakhir jawabannya.
Aku sedikit tersentak. Jawabannya kembali membuatku termenung sejenak. Menyisakan hening sesaat di antara aku dan dia. Ya, ibaku meninggi. Semakin memuncak. Dalam batinku, betapa kasihannya ia. Seorang wanita tua dan tak mampu, harus menanggung penyakit berat. Cobaannya begitu hebat.
Percakapanku tadi dengannya, menyisakan sebuah tanya. Ya, senyumnya. Tentang senyum yang selalu ia sombongkan padaku, di sela-sela pembicaraan. Senyum yang begitu ringan tanpa beban untuk tetap melesat darinya. Meski dalam jiwanya ia mungkin menangis, karena raganya yang renta —yang hampir habis, dimangsa penyakit sadis. Ada apa.
Ada apa sebenarnya? Aku memang serupa seorang anak yang tak tahu apa-apa tentang dunia dan kehidupan. Tentang begitu samarnya hidup, yang jawabnya sering tak kutemukan dalam banyak buku yang kubaca. Tetap hampa. Aneh, apalagi yang harus kucari dan kupelajari. Itu masih menjadi misteri diri.
***
Jam 17. 00, aku terbangun. Di luar kamarku, mendung menghadang. Tak seorang pun tetangga kamarku terlihat di luar. Bahkan tak ada suara speaker yang biasa menggema seisi asrama. Mungkin karena mendung. Mereka enggan keluar, lalu harus terkena angin yang cukup kencang. Badanku yang rengkuh, menggigil disapa angin dari arah utara. Ke mana mereka?
Jam 17.15, aku lebih segar, setelah dari malam tubuhku tak kuizinkan terkena air. Wajahku kembali bersih, walau masih pasi. Di kaca kulihat, bulatan hitam di bawah mataku tak hilang disapu air. Tulang pipiku semakin menonjol keluar, seolah kulit pipiku habis tenggelam ke dalam. Kusisir rambutku yang masih kuyup. kurapihkan setiap helainya, yang biasanya tak karuan di sekitar wajah. Lalu, kopiah merah muda itu, kuletakan rapih menutupi ubun dan pinggir kuping. Sudah lama, benda ini tak lagi menutupi kepalaku. Aku berbisik pada diri dalam hati.
Kuambil, sarung yang menumpuk rapi di atas lemari bukuku. Baunya masih sangat kuat. Sama dengan bau seluruh pakaianku. Bau laundry langgananku. Lalu kemeja putih, yang selalu kusimpan, karena begitu istimewa. Kusandingkan dengan sarung dan kopiah ini. aku tampak bergitu berbeda petang itu. Entah ada apa. Aku ingin sholat dan menghadap-Nya sekarang.
Aku duduk masih dengan posisi sholatku terakhir. Tatapanku mengarah ke potret mesjid yang menempel di sajadah. Entah, aku masih belum merasa tenang. Masih dengan getar hati yang tak henti meluapkan tanya. Bibirku mulai kubasahi dengan Kalam-nya, agar batinku terisi kembali. Kulanggamkan pada-Nya seluruh jiwa dan pikirku.
Ragaku melemah, dadaku bergetar. Aku setengah sadar. Pintu itu perlahan terbuka. Tak bisa kulihat apapun. Di luar begitu terang. Ragaku telentang tak menantang. Entah siapa dia yang datang. Dia tersenyum riang. Selamat datang!!! *** (Dimuat di rubrik 'Khazanah' Pikiran Rakyat )

*) alat pancung pada masa revolusi Prancis.

Bandung, 18 Juni 2012  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar