T. S Elliot, Mistisisme dan
Pesimisme
Oleh Asep
Gunawan
Ada semacam nada sendu atau
kemuraman dalam beberapa puisi yang ditulis oleh seorang penyair Amerika
berkebangsaan Inggris ini. Nada yang membelot dari semangat zaman romatisisme
yang pada saat itu menjadi primadona, khususnya di Amerika. Namun, T.S Elliot
seolah keluar dari mainstream yang
ramai-ramai diusung kebanyakn sastrawan Amerika. Elliot banyak menampakan
kegetiran dan sikap putus asa dalam memandang kehidupan.
Thomas
Stearns Elliot dilahirkan pada tanggal 26 september tahun 1888. Ia lahir dari
keluarga kelas menengah, di mana sang ayah adalah seorang pengusaha yang cukup
sukses, dan sang ibu merupakan seorang aktivis sosial. Bisa dibilang bakat
menulis Elliot diturunkan dari ibunya yang juga memiliki hobi menulis. Elliot
dibesarkan oleh tradisi religious dan pendidikan yang kuat. Namun, masa kecil Elliot
memang cukup berat. Sejak kecil, Elliot memiliki keterbatasan fisik. Ia
menderita penyakit hernia bawaan. Hal itulah yang membuat Elliot kecil tidak banyak ikut berpartisifasi
dalam aktivitas fisik dan cenderung dikucilkan teman sebayanya. Namun
keterbatasan itulah yang membuat Elliot mengalihkan perhatiannya pada dunia sastra,
dan pengalaman masa lalu itulah yang menjadi tema favoritnya dalam setiap
karyanya.
Saya
tak hendak mengulas masa kecil Elliot yang kelam itu. Namun, tentu saja setiap
pengalaman yang dirasakan oleh seorang pengarang tentu akan menjadi memori kolektif yang menjadi bahan mentah pada
karya-karyanya. Pengalaman kelam masa kecil itu ternyata masih terbawa di masa
Elliot dewasa. Kegagalan dalam perkawinan dan tentu saja dampak Perang Dunia I,
menjadi tema – tema yang diusung kepermukaan.
Abad
20 menjadi era di mana modernism sangat berkembang pesat, terutama di Amerika. Modernitas
banyak memengaruhi kebanyakan orang Amerika, termasuk para sastrawan.
Perkembangan teknologi dan pola pikir matrealistik menjadi begitu kuat merasuk
cara pandang manusia modern. Namun tentu saja, ada konsekuensi lain yang
mengendap tak terasa. Di mana ketika kebutuhan materialistik yang terus
dikejar, maka di sisi lain kebutuhan akan spiritualitas menjadi semakin
terabaikan. Potret inilah yang ingin disampaikan oleh Elliot melalui tema-tema
karya —terutama puisi— yang ia buat. Kebudayaan modern inilah yang menurutnya,
membiarkan relativisme kultural berkembang menjadi sumber konflik sosial,
ideologis dan intelektual yang tak habis-habis.
Puisi
Mistis dan Pesimistis Ala T.S Eliot
Eliot mengklaim bahwa seorang
penyair haruslah menjadi seorang ‘metaphysical poet’, yang mana dalam setiap
karyanya harus menjadi semakin menyeluruh, lebih allusif lebih tersirat, supaya
bisa mendorong atau bahkan menghilangkan bahasa yang penuh arti, yakni salah
satunya dengan ‘keangkuhan’. Sikap itu memang terlihat nyata pada puisi-puisi
Eliot, yang pada kali ini saya hendak mewakilkannya dengan dua puisi yang
mengangkat namanya menjadi salah satu penyair paling berpengaruh pada abad 20,
yaitu The Love Song of J. Alfred, The Waste Land,
Jika
kita membaca puisi berjudul ‘The love song of J Alfred’ allusi itu menjadi
begitu nyata, karena pada pembukaan puisi itu, Eliot mengutip Inferno-nya Dante
Alighieri.
S’ io credessi che mia risposta
fosse
A persona che mai tornasse al
mondo,
Questa fiamma staria senza piu
scosse.
Ma percio che giammai di questo
fondo
Non torno vivo alcun, s’I odo il
vero,
Senza tema d’infamania ti
rispondo.
(Dante,
Inferno 27. 61-66)
Kutipan
di atas menandakan sikap ‘keangkuhan’ diri Eliot yang memang banyak terpengaruh
oleh puisi penyair abad 14 asal Italia itu.
Tentu saja bukan tanpa alasan (intention) mengapa Eliot mengutip
inferno-nya Dante. Salah satu yang paling mungkin adalah adanya kesamaan
ideology antara Dante dan Eliot sendiri. Inferno merupakan bagian dari ketiga puisi
Dante yang termaktub dalam Divine Commedi.
Inferno merupakan gambaran ketika manusia berada dalam tahapan siksaan di
neraka dalam puisinya Dante.
Kekuatan
allusi itu pun semakin nyata karena dalam bait lain, Eliot menghadirkan
tokoh-tokoh masa lalu semisam Michel Angelo dan juga tokoh fiktif ciptaan Shakespeare:
Hamlet. Kehadiran tokoh-tokoh masa lalu itu nyatanya memperkuat kengkuhan sifat
Eliot sendiri, yang membuat para pembacanya kadang terperangkap dalam pusaran
makna yang begitu dalam dan luas.
Dalam
puisi ini, Eliot menceritakan pengalaman seorang lelaki yang mengalami
kelambaman fisik dan inteletualnya, serta sikap putus asa dalam kehidupan
spiritualitasnya. Dampak yang nyatanya dirasakan oleh kebanyakan manusia
sebagai akibat dari modernisme. Sebagai penyair yang lahir dalam era modern,
Eliot nyatanya masih memegang kuat tradisi klasik dan banyak mengkritik keadaan
zaman modern itu, yang salah satunya ditujukan kepada para sastrawan
seangkatannya, semisal Robert Frost yang terlalu menunjukan sisi romatisisme
dalam puisinya serta William Carlos William yang malah membumikan bahasa puisi,
yang tentu saja bertolak belakang dengan gaya penulisan puisi Eliot yang penuh
dengan symbol dan pemaknaan yang sukar.
Sementara
itu, puisi keduanya yang berjudul “ The Waste Land”, tema yang sama pun ia
ungkapkan dalam karyanya yang satu ini. Puisi yang bisa dibilang masterpiece-nya —karena telah membuat
namanya melambung— ini dipersembahkan Eliot buat sahabat dekatnya: Ezra Pound.
Kebanyakan kritikus sastra menganggap bahwa puisi ini begitu allusive dan
kompleks. Karena, dalam menafsrikannya paling tidak ada tiga tahapan
interpretasi. Ketiga tahapan itu menyangkut: 1. Personal, 2. Masyarakat, 3.
Humanisme. Dalam personal interpretasi, ada semacam ekspresi atau intenssi dari
apa yang dirasakan oleh Eliot sendiri. Sedangkan untuk yang kedua, lebih pada
bagaiaman Eliot memosisikan dirinya sebagai seorang yang terlibat di dalam
sebuah masyarakat. Dan interpretasi humanisme itu lebih menghubungkan manusia
pada keadaan masa lalu, sekarang dan masa depan.
Dalam
puisi ini, tradisi klasik yang dianut Eliot cukup menonjol. Dalam beberapa bait
dalam puisinya ini, dia memakai larik berbahasa latin, sebagai penanda masa
lalu dia yang banyak terpengaruh oleh mitologi Romawi dan Yunani. Puisi ini
menjadi begitu kompleks, karena Eliot pun mencatumkan larik berbahasa Jerman
dan bahasa Sanskerta yang mencirikan kompleksitas dirinya yang pernah mempelajari
filsafat Jerman dan Sanskri. Dalam penutup puisinya ini, Eliot menyebutkan
diksi ‘ Shantih’ itu sebanyak tiga kali. Dalam teologi Hindu, penyebutkan kata
‘Shanthi’ sebagai tiga kali itu merupakan sebuah ritual ‘Upanishad’.
Dalam
kedua puisi itu, paling tidak Eliot menghadirkan sisi tradisionalnya, sebagai
bentuk perlawanan terhadap modernitas yang mulai menggerogoti pemikiran tradisional.
Sisi tradisional itu terutama dicirikan oleh penggunakan diksi-diksi mistik
dalam puisinya yang berbaur mesra dengan tema pesimisme yang diusungnya.
Kosan
Citra KDI 3, beberapa jam lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar