Selasa, 30 Oktober 2012

Melirik T.S Elliot



T. S Elliot, Mistisisme dan Pesimisme
Oleh Asep Gunawan

Ada semacam nada sendu atau kemuraman dalam beberapa puisi yang ditulis oleh seorang penyair Amerika berkebangsaan Inggris ini. Nada yang membelot dari semangat zaman romatisisme yang pada saat itu menjadi primadona, khususnya di Amerika. Namun, T.S Elliot seolah keluar dari mainstream yang ramai-ramai diusung kebanyakn sastrawan Amerika. Elliot banyak menampakan kegetiran dan sikap putus asa dalam memandang kehidupan.
            Thomas Stearns Elliot dilahirkan pada tanggal 26 september tahun 1888. Ia lahir dari keluarga kelas menengah, di mana sang ayah adalah seorang pengusaha yang cukup sukses, dan sang ibu merupakan seorang aktivis sosial. Bisa dibilang bakat menulis Elliot diturunkan dari ibunya yang juga memiliki hobi menulis. Elliot dibesarkan oleh tradisi religious dan pendidikan yang kuat. Namun, masa kecil Elliot memang cukup berat. Sejak kecil, Elliot memiliki keterbatasan fisik. Ia menderita penyakit hernia bawaan. Hal itulah yang membuat  Elliot kecil tidak banyak ikut berpartisifasi dalam aktivitas fisik dan cenderung dikucilkan teman sebayanya. Namun keterbatasan itulah yang membuat Elliot mengalihkan perhatiannya pada dunia sastra, dan pengalaman masa lalu itulah yang menjadi tema favoritnya dalam setiap karyanya. 
            Saya tak hendak mengulas masa kecil Elliot yang kelam itu. Namun, tentu saja setiap pengalaman yang dirasakan oleh seorang pengarang tentu akan menjadi  memori kolektif yang menjadi bahan mentah pada karya-karyanya. Pengalaman kelam masa kecil itu ternyata masih terbawa di masa Elliot dewasa. Kegagalan dalam perkawinan dan tentu saja dampak Perang Dunia I, menjadi tema – tema yang diusung kepermukaan.
            Abad 20 menjadi era di mana modernism sangat berkembang pesat, terutama di Amerika. Modernitas banyak memengaruhi kebanyakan orang Amerika, termasuk para sastrawan. Perkembangan teknologi dan pola pikir matrealistik menjadi begitu kuat merasuk cara pandang manusia modern. Namun tentu saja, ada konsekuensi lain yang mengendap tak terasa. Di mana ketika kebutuhan materialistik yang terus dikejar, maka di sisi lain kebutuhan akan spiritualitas menjadi semakin terabaikan. Potret inilah yang ingin disampaikan oleh Elliot melalui tema-tema karya —terutama puisi— yang ia buat. Kebudayaan modern inilah yang menurutnya, membiarkan relativisme kultural berkembang menjadi sumber konflik sosial, ideologis dan intelektual yang tak habis-habis.
Puisi Mistis dan Pesimistis Ala T.S Eliot
Eliot mengklaim bahwa seorang penyair haruslah menjadi seorang ‘metaphysical poet’, yang mana dalam setiap karyanya harus menjadi semakin menyeluruh, lebih allusif lebih tersirat, supaya bisa mendorong atau bahkan menghilangkan bahasa yang penuh arti, yakni salah satunya dengan ‘keangkuhan’. Sikap itu memang terlihat nyata pada puisi-puisi Eliot, yang pada kali ini saya hendak mewakilkannya dengan dua puisi yang mengangkat namanya menjadi salah satu penyair paling berpengaruh pada abad 20, yaitu The Love Song of J. Alfred, The Waste Land,
            Jika kita membaca puisi berjudul ‘The love song of J Alfred’ allusi itu menjadi begitu nyata, karena pada pembukaan puisi itu, Eliot mengutip Inferno-nya Dante Alighieri.
S’ io credessi che mia risposta fosse
A persona che mai tornasse al mondo,
Questa fiamma staria senza piu scosse.
Ma percio che giammai di questo fondo
Non torno vivo alcun, s’I odo il vero,
Senza tema d’infamania ti rispondo.
(Dante, Inferno 27. 61-66)

            Kutipan di atas menandakan sikap ‘keangkuhan’ diri Eliot yang memang banyak terpengaruh oleh puisi penyair abad 14 asal Italia itu.  Tentu saja bukan tanpa alasan (intention) mengapa Eliot mengutip inferno-nya Dante. Salah satu yang paling mungkin adalah adanya kesamaan ideology antara Dante dan Eliot sendiri. Inferno merupakan bagian dari ketiga puisi Dante yang termaktub dalam Divine Commedi. Inferno merupakan gambaran ketika manusia berada dalam tahapan siksaan di neraka dalam puisinya Dante.
            Kekuatan allusi itu pun semakin nyata karena dalam bait lain, Eliot menghadirkan tokoh-tokoh masa lalu semisam Michel Angelo dan juga tokoh fiktif ciptaan Shakespeare: Hamlet. Kehadiran tokoh-tokoh masa lalu itu nyatanya memperkuat kengkuhan sifat Eliot sendiri, yang membuat para pembacanya kadang terperangkap dalam pusaran makna yang begitu dalam dan luas.
            Dalam puisi ini, Eliot menceritakan pengalaman seorang lelaki yang mengalami kelambaman fisik dan inteletualnya, serta sikap putus asa dalam kehidupan spiritualitasnya. Dampak yang nyatanya dirasakan oleh kebanyakan manusia sebagai akibat dari modernisme. Sebagai penyair yang lahir dalam era modern, Eliot nyatanya masih memegang kuat tradisi klasik dan banyak mengkritik keadaan zaman modern itu, yang salah satunya ditujukan kepada para sastrawan seangkatannya, semisal Robert Frost yang terlalu menunjukan sisi romatisisme dalam puisinya serta William Carlos William yang malah membumikan bahasa puisi, yang tentu saja bertolak belakang dengan gaya penulisan puisi Eliot yang penuh dengan symbol dan pemaknaan yang sukar.
            Sementara itu, puisi keduanya yang berjudul “ The Waste Land”, tema yang sama pun ia ungkapkan dalam karyanya yang satu ini. Puisi yang bisa dibilang masterpiece-nya —karena telah membuat namanya melambung— ini dipersembahkan Eliot buat sahabat dekatnya: Ezra Pound. Kebanyakan kritikus sastra menganggap bahwa puisi ini begitu allusive dan kompleks. Karena, dalam menafsrikannya paling tidak ada tiga tahapan interpretasi. Ketiga tahapan itu menyangkut: 1. Personal, 2. Masyarakat, 3. Humanisme. Dalam personal interpretasi, ada semacam ekspresi atau intenssi dari apa yang dirasakan oleh Eliot sendiri. Sedangkan untuk yang kedua, lebih pada bagaiaman Eliot memosisikan dirinya sebagai seorang yang terlibat di dalam sebuah masyarakat. Dan interpretasi humanisme itu lebih menghubungkan manusia pada keadaan masa lalu, sekarang dan masa depan.
            Dalam puisi ini, tradisi klasik yang dianut Eliot cukup menonjol. Dalam beberapa bait dalam puisinya ini, dia memakai larik berbahasa latin, sebagai penanda masa lalu dia yang banyak terpengaruh oleh mitologi Romawi dan Yunani. Puisi ini menjadi begitu kompleks, karena Eliot pun mencatumkan larik berbahasa Jerman dan bahasa Sanskerta yang mencirikan kompleksitas dirinya yang pernah mempelajari filsafat Jerman dan Sanskri. Dalam penutup puisinya ini, Eliot menyebutkan diksi ‘ Shantih’ itu sebanyak tiga kali. Dalam teologi Hindu, penyebutkan kata ‘Shanthi’ sebagai tiga kali itu merupakan sebuah ritual ‘Upanishad’.    
            Dalam kedua puisi itu, paling tidak Eliot menghadirkan sisi tradisionalnya, sebagai bentuk perlawanan terhadap modernitas yang mulai menggerogoti pemikiran tradisional. Sisi tradisional itu terutama dicirikan oleh penggunakan diksi-diksi mistik dalam puisinya yang berbaur mesra dengan tema pesimisme yang diusungnya.

Kosan Citra KDI 3, beberapa jam lalu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar