Selasa, 30 Oktober 2012

Bahasa Politik yang Melangit




Bahasa Politik yang Melangit
Oleh Asep Gunawan
            Bahasa merupakan cerminan bangsa. Setiap bahasa mempunyai keunikan tersendiri yang mampu membedakan setiap bangsa dengan bangsa lain, dan bahkan setiap individu yang satu dengan individu yang lain. Ada sebuah konsep bahasa yang diatur dalam pikiran seseorang, sebelum ia menyampaikan konsep tersebut dalam bahasa yang ia pilih. Atau kalau meminjam istilah Ferdinand de Saussure (1857-1913), konsep itu disebut langue, dan apa yang diujarkan, itulah yang disebut dengan parole.
            Dalam sebuah acara televisi kita sering melihat para politisi berbincang dengan sesama politisi (sederajat) atau dengan yang bukan politisi (orang biasa). Di tengah perbincangan itu, sekali-kali dahi kita mengerut ketika terlontar beberapa kata/ istilah yang masih asing di telinga—kata atau istilah yang belum terlacak pemaknaannya bagi masyarakat menengah ke bawah. Entah ada motif apa ketika berbicara di depan televisi para politisi itu akan selalu cenderung menyelipkan kata atau istilah asing (serapan) di sela-sela omongannya.
            Kata atau istilah itu biasanya diserap dari bahasa asing—terutama bahasa Inggris. Kata-kata yang lazim dan biasa terdengar dari para politisi itu misalnya: kondusif dari kata condusif (Inggris) yang artinya bersifat mendukung; rumor sama dengan bentuk Inggris-nya yang artinya desas-desus; transparansi dari kata transparence (inggris) yang artinya tembus pandang atau jernih; arogan dari kata arrogant (Inggris) yang berarti pongah/sombong; rekonsiliasi dari kata reconciliation (Inggris) yang artinya pemulihan keadaan semula.
            Yang menjadi pertanyaan apakah yang melandasi sang pengujar (politisi) untuk memakai istilah serapan asing dalam pembicaraan mereka? Dalam telaah psikolinguistik, Daniel Parera (1986) mengungkapkan bahwa, dalam setiap kata atau bahasa yang diungkapkan seseorang, selalu ada hubungan antara kemampuan sensori dan kemampuan intelektual sang pengujarnya. Jadi, ketika seseorang berujar, ada semacam desakan psikologis yang menuntut si pengujarnya untuk memberikan citraan yang lebih baik daripada sang pendengar melalui pemakaian bahasa yang dipilihnya.  Ada prestise tersendiri ketika sang pengujar menggunakan bahasa asing (serapan), maka ia akan lebih terlihat terpelajar yang berujung pada harapan akan pencitraan positif diri.
            Tampaknya hasrat pribadi bisa mengalahkan kelaziman dan keaslian bahasa sebuah bangsa. Sekarang ini, orang lebih suka menggunakan bahasa asing yang sudah di-Indonesia-kan, dibanding menggunakan bahasa Indonesia sendiri. Contohnya untuk kata sophisticated (inggris) orang senang mengindonesiakannya menjadi sofistikasi, bukan dengan canggih. Begitu juga orang lebih senang menyebut kata solid (inggris) daripada kata kukuh, atau pun kata solusi daripada memakai kata pemecahan.
            Dalam sebuah diskusi perihal kebahasaan, penyair Taufik Ismail pun menyayangkan perihal banyaknya orang dalam televisi yang lebih memilih memakai bahasa asing (Inggris)dibanding bahasa Indonesia sendiri. Cengkeraman bahasa Inggris yang begitu kuat itu bisa terjadi karena, bangsa kita yang cenderung minder, rendah diri, bersikap udik, dan suka menunduk-nunduk itulah yang teramat kuat. Bangganya pemakaian terhadap bahasa asing ini, lama-kelamaan bisa mengancam ‘kehidupan’ bahasa lokal sendiri. Ketika orang lebih memilih bahasa asing, tentu saja hal itu bisa menularkan mental bangga ber-Inggris-inggris ria itu pada pendengarnya. Sehingga generasi muda akan cenderung lebih akrab dengan bahasa-bahasa serapan (Inggris) dibanding dengan kosa-kata bahasa Indonesia yang jauh lebih banyak dan variatif.
            Sesungguhnya jika kita sadar untuk mengembangkan dan memelihara bahasa nasional, tak ada pilihan lain kecuali kita memilih kata-kata bahasa Indonesia sendiri. Sebuah pengecualian untuk menggunakan bahasa asing, ketika tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Sikap mau memilih kata Indonesia dan bangga memakainya akan memperlihatkan jati-diri bangsa Indonesia yang sadar akan kekayaan budayanya.
(Dimuat di kolom 'Wisata Bahasa' (Khazanah) Pikiran Rakyat)


Penulis, Penelaah Linguistik. Alumnus Bahasa dan Sastra Inggris UIN Bandung


Cerpenku



Tamu Menjelang Gelap
Cerpen Asep Gunawan*

Seperti pagi biasanya. Matahari masih cerah membangunkanku dari jendela. Pintu hijau itu tak henti meraung diketuk ibu kos. Ini tanggal 21. Pertanda 50 ribu harus kukeluarkan mengganti beban listrik dan air yang kupakai mandi dan berak. Di luar, pedagang gorengan terus meneriakan bawaannya. Berterika keras, mencari beberapa rupiah. Teriakan yang membuat insyaf manusia di sini. Terbangun, setelah semalaman menemani manusia beradu di lapangan bola. Tak ada yang beda. Semua masih sama. Kemarin, esok atau lusa. Masih dengan gumam serupa.
Karpet hijauku, masih ditumpuki abu roko. Bungkus merahnya berserakan berdampingan mesra dengan buku yang tak kalah berantakan.  Rokok yang dibungkus kotak merah berlambang jarum keemasan. Merah yang berani. Merah yang katanya keras dan kejam. Tak salah bungkusnya merah. Karena aku tahu, tembakau yang selalu merangsak masuk ke tubuhku, perlahan menggasak raga ini. Paru-paru membiru. Tubuhku lemas, tak kuasa diterjang Tar dan Nikotin.  Tubuhku mengering, tulang semakin menonjol. Rusukku semakin jelas, setiap kaos oblongku membesar. Bukan, tepatnya tubuhku yang semakin kurus. Tapi rokok tak membuatku kurus, tak membuat ragaku serupa mereka; para penderita gizi buruk di Somalia.
Tiba-tiba aku teringat Musa; sang nabi Bani Israil. Dia bersabda, ‘kematian serupa kambing yang dikuliti hidup-hidup’. Spontan kudukku berdiri ketika terbayang wajah seramnya, serta jerit manusia kala melihatnya. Aku tahu, suatu hari manusia pasti bertemu dengannya, wujud yang menakutkan. Menebar teror setiap saat. Di jalan, di gedung, atau bahkan kamar ini pun bisa jadi tempatku bertemu dengannya. Entah pagi, tengah hari atau senja. Yang pasti waktu takkan meringankan sayat pedihnya.
Kenapa aku berbicara tentangnya. Tentang ia, yang semakin mendekat. Apa yang harus kulakukan. Bersembunyi? Itu tak fungsi. Ia sanggup menjelma motor yang melaju kencang, tembok roboh, bumi terbelah, atau racun paling mematikan. Mungkin Socrates pun sama. Dalam ruang sunyi dia menunggu tamunya itu. Socrates tahu pasti,  tamunya bisa menjelma apa pun. Yang paling pasti di depan, tamunya menjelma kapak atau Guillotine*, dan siap menghunus leher, lalu terpisahlah raga dan wajah buruknya. Namun Socrates memilih berdamai dengannya. Ia bernegosiasi. Ia pilih racun yang takkan kuasa memisahkan kepala dan raganya. Ia masih beruntung. Ia  memiilih telentang kaku di ruang gelap dengan raga utuh. Tamunya selalu memberi pilihan.
Tak serupa Jenar. Ia terlalu besar kepala. Ia angkuh. Pantas mungkin ia dipenggal. Memisahkan raga dan jiwanya. Memisahkan ajarannya dengan manusia. Ajaran yang tak sejalan dengan tujuh temannya. Ia terpenggal. Ia meninggal. Meninggalkan manunggaling kawula gusti. Jika Jenar bertemu Copernicus di surga sana, mungkin saja mereka menjadi teman akrab. Berbincang hangat tentang pengalaman dunia.  Tentang bagaimana mereka bertemu tamu mereka. Sesekali mereka akan tertawa. Melihat wajah hitam lebam tamunya itu, yang tersenyum ketus ketika bertegur-sapa , lalu dengan kejam menghunus aritnya. Membelah jiwa mereka, lalu mengantarnya ke langit, meninggalkan raga yang bersimbah darah.
Sudahlah aku tak mau berbicara tentangnya lagi. Yang pasti tiga hari ini ada yang mengganjal sesak di dadaku. Mengganggu pikirku. Siapa sebenarnya aku? Untuk apa aku hidup? Tanya itu selalu menjelma, berkelindan setiap malam kala ku tak terjaga.  Di mana bisa kutemukan jawabnya? Aku yakin sekarang tak satu dukun pun akan tahu. Bahkan sampai Pram pun meninggal, pertanyaan itu masih mengantarkannya pada ruang kepenasaran, yang entah sampai kapan tabir jawabnya terbuka.
HP-ku berbunyi. Deringnya menarikku kembali pada ranah sadar. Ibuku di sana menunggu. Menunggu suaraku hari ini. aku masih seperti yang dulu. Menjawab semua pertanyaannya dengan palsu. Entah, aku tak tahu dengan jawaban yang seperti apa yang harus kuberikan pada sosok wanita tua itu. Tiap hari, tiap pagi ia menghubungiku. Masih dengan harap yang sama. Mendengar suaraku yang segar. Suara laiknya seorang anak pada ibunya. Dia masih melontarkan pertanyaan serupa. Tak jauh beda, akupun masih dengan jawab yang sama; Kebohongan.
Assalamuaikum!! De, kamu baru bangun? Mamah udah telpon kamu dari jam 6. Nadanya serius
Iya, Mah. Tadi malam nonton bola sampai subuh. Nadaku cukup meyakinkan.
Bulan ini di Eropa berlangsung pesta bola. Semua orang di dunia merayankannya. Tak terkecuali di pelosok desaku di sana. Namun bagiku tak berpengaruh apa-apa. Aku tak begitu cinta bola.
Kamu kok nonton bola terus? Ingat De, kamu kan harus bangun pagi buat kuliah. Lagi pula bergadang terus, bikin tubuh kamu rentan terkena penyakit.
Iya mah, Ade gak kesiangan kok. Lagian sekarang kuliah jadwalnya gak ada yang pagi. Semuanya ba’da dzuhur. Aku kembali mengarang.
Ya udah kamu sehat-sehat aja kan? Malam tadi mamah ngerasa gak enak hati terus De, Makanya dari jam 6 mamah udah teleponin kamu. Nada ibuku menjadi gemetar. Dia menjadi sedikit gugup dan takut.
Sehat kok mah, cuma agak batuk ja. Mungkin karena akhir-akhir ini sering makan es.
Ya udah, jaga diri kamu baik-baik. Nanti kamu jangan lupa makan obat. Kalau uang kamu habis, segera sms mamah. Nanti mamah langsung transfer. Ia selalu dengan sifat protektifnya.
Iya mah, tenang ja uang masih ada.
Dia menutup teleponya dengan salam. Mungkin suaraku tadi akan sedikit membuat takutnya reda. Iya, itulah yang kuharapkan, ia akan kembali tak diselimuti resah, dan ketenangan akan membuat ia semangat lagi menjalani hari di sana. Di rumah.
Apa yang kurang dariku. Hampir semuanya ada. Dari semua yang kupakai itu tak biasa. Bagi ukuran anak muda, mungkin aku agak beda. Dari tunggangan yang kupakai ke kampus sampai gaya hidupku, kurasa itu sempurna. Hampir tiap malam tempatku hangout adalah kafe. Kuhabiskan malam bersama mereka, temanku. Bermain bilyard atau sekedar karaoke berjam-jam.  Di desaku tak kutemui hidup seperti ini. Di sini, semuanya beda. Aku seolah menggila.

***
Pernah aku beberapa hari terkapar di rumah sakit. Menjalani sebagian waktuku sebagai ‘tamu’ di sana. Sebagaimana tamu, aku mendapat perhatian lebih: aku dimanja. Namun tamu pun punya hak untuk tak betah berlama. Siapa pun akan mengamininya. Senyaman dan semewah pelayanan rumah sakit apa pun, tetap bukan tempat yang enak untuk ditinggali berlama-lama. Suasana yang selalu memberikan aura tak enak sering kurasa di sana.
Aku tiba-tiba tergeletak tak sadarkan diri, ketika aku sedang menjalani kuliah siang hari. Waktu itu aku masih ingat, mata kuliah “menulis’. Hanya sampai di situ saja memoriku. Karena, setelah itu aku, terbangunkan di ruang harum obat — di ranjang putih bersih. Badanku sudah lemas-kaku, dengan tangan tertusuk jarum infus. Entah berapa hari aku tak sadar. Tak ada seorangpun di sisiku. Di pojok kananku, hanya seorang suster yang sedang sibuk membereskan ranjang dan seprai, selepas sang empunya pulang atau mati mungkin.
Sebelum pamit pulang. Aku berjalan mengitari ruang lain. Ruang sesak yang dipenuhi mereka; orang –orang sakit. Entah apa yang berkelindan di pikiran mereka, sebenarnya. Mereka laiknya tamasya saja. berkumpul, makan-makan sambil sesekali melepas tawa bersama. Gila, ini serupa ruangan sukacita.  Namun seorang wanita renta tergolek tidur di pojok dekat ruangan yang dijadikan mushola. Dia beralaskan koran dan kain samping. Aku duduk di ruang tunggu itu. Ruang tempat mereka yang belum mendapat kamar rawat. Pihak rumah sakit berapolozi semua kamar telah terisi penuh. Salah satunya si ibu yang aku tak tahu namanya. Dia tersadar entah karena apa. Dia terkaget, setelah di kursi dekat ia tidur, ada aku yang melihatnya. Dia terkejut. Mungkin segan atau malu.
Senyum. Itu ekspresi pertama yang ia tunjukan padaku. Wajahnya tak menunjukan rasa sakit, tertutupi setiap senyum yang ia lemparkan begitu sering. Dia agak gugup, mencari tas hitamnya, lalu ia tarik sebotol air putih. Air yang diisi ulang nampaknya, botol itu sudah terlihat usang, mereknya sudah samar terlihat. Dia meneguknya, mengalirkan air ke dalam tenggorokannya, hingga setengah botol ia sisakan. Ia kembali mencari dan meraba-raba ke dalam tasnya. Tak ada yang ia keluarkan, wajahnya menunjukan kekecewaan. Ia melihat ke sekeliling orang. Banyak orang berkerumun di alas masing-masing, membentuk kelompok. Ruang itu pun sesak, hanya bagian tengah yang tak mereka tempati. Tiap sudut: di kiri, kanan, depan dan belakang berkumpul orang. Hingga tak jelas siapa yang sakit— siapa yang mereka tunggui. Dia duduk bersandar ke belakang, ke pundak kursi yang dianyam dari rotan. dia lemparkan tatapan kosongnya. Dia melamun kembali.
Bu dari mana? Tanyaku sok akrab.
Dia kembali tersenyum sebelum menjawab.
Oh, ibu mah dari Majalengka, A. dia menjawab dengan akrab.
Dari kapan ibu di sini? Aku dengan iba menanyainya.
Sebenarnya ibu sudah tiga kali ke sini. Tapi selalu saja tak kebagian ruangan. Ya, mungkin beginilah nasib yang cuma bermodalkan Askeskin, A, harus menunggu lagi.
Ibaku bertambah. Emang ibu sakit apa? Aku semakin penasaran.
Hehe, ini A, ibu ada sedikit masalah di bagian payudara kiri ibu, kata dokter daerah sih, katanya ibu kena kanker. Dia berujar sambil memegangi dada kirinya.
Sudah berapa lama ibu merasakan penyakit itu? aku bertanya laiknya dokter yang memeriksa pasiennya, melalui pertanyaan.
Cukup lama A, sudah tiga belas tahun ibu sakit ini teh. Lagi-lagi ia melemparkan senyum diakhir jawabannya.
Aku sedikit tersentak. Jawabannya kembali membuatku termenung sejenak. Menyisakan hening sesaat di antara aku dan dia. Ya, ibaku meninggi. Semakin memuncak. Dalam batinku, betapa kasihannya ia. Seorang wanita tua dan tak mampu, harus menanggung penyakit berat. Cobaannya begitu hebat.
Percakapanku tadi dengannya, menyisakan sebuah tanya. Ya, senyumnya. Tentang senyum yang selalu ia sombongkan padaku, di sela-sela pembicaraan. Senyum yang begitu ringan tanpa beban untuk tetap melesat darinya. Meski dalam jiwanya ia mungkin menangis, karena raganya yang renta —yang hampir habis, dimangsa penyakit sadis. Ada apa.
Ada apa sebenarnya? Aku memang serupa seorang anak yang tak tahu apa-apa tentang dunia dan kehidupan. Tentang begitu samarnya hidup, yang jawabnya sering tak kutemukan dalam banyak buku yang kubaca. Tetap hampa. Aneh, apalagi yang harus kucari dan kupelajari. Itu masih menjadi misteri diri.
***
Jam 17. 00, aku terbangun. Di luar kamarku, mendung menghadang. Tak seorang pun tetangga kamarku terlihat di luar. Bahkan tak ada suara speaker yang biasa menggema seisi asrama. Mungkin karena mendung. Mereka enggan keluar, lalu harus terkena angin yang cukup kencang. Badanku yang rengkuh, menggigil disapa angin dari arah utara. Ke mana mereka?
Jam 17.15, aku lebih segar, setelah dari malam tubuhku tak kuizinkan terkena air. Wajahku kembali bersih, walau masih pasi. Di kaca kulihat, bulatan hitam di bawah mataku tak hilang disapu air. Tulang pipiku semakin menonjol keluar, seolah kulit pipiku habis tenggelam ke dalam. Kusisir rambutku yang masih kuyup. kurapihkan setiap helainya, yang biasanya tak karuan di sekitar wajah. Lalu, kopiah merah muda itu, kuletakan rapih menutupi ubun dan pinggir kuping. Sudah lama, benda ini tak lagi menutupi kepalaku. Aku berbisik pada diri dalam hati.
Kuambil, sarung yang menumpuk rapi di atas lemari bukuku. Baunya masih sangat kuat. Sama dengan bau seluruh pakaianku. Bau laundry langgananku. Lalu kemeja putih, yang selalu kusimpan, karena begitu istimewa. Kusandingkan dengan sarung dan kopiah ini. aku tampak bergitu berbeda petang itu. Entah ada apa. Aku ingin sholat dan menghadap-Nya sekarang.
Aku duduk masih dengan posisi sholatku terakhir. Tatapanku mengarah ke potret mesjid yang menempel di sajadah. Entah, aku masih belum merasa tenang. Masih dengan getar hati yang tak henti meluapkan tanya. Bibirku mulai kubasahi dengan Kalam-nya, agar batinku terisi kembali. Kulanggamkan pada-Nya seluruh jiwa dan pikirku.
Ragaku melemah, dadaku bergetar. Aku setengah sadar. Pintu itu perlahan terbuka. Tak bisa kulihat apapun. Di luar begitu terang. Ragaku telentang tak menantang. Entah siapa dia yang datang. Dia tersenyum riang. Selamat datang!!! *** (Dimuat di rubrik 'Khazanah' Pikiran Rakyat )

*) alat pancung pada masa revolusi Prancis.

Bandung, 18 Juni 2012  


Geliat Politik di Era Cyberspace



Geliat Politik di Era Cyberspace
Oleh Asep Gunawan

PERKEMBANGAN teknologi informasi sejak lebih dari tiga dekade lalu, telah memunculkan berbagai optimisme akan peran pentingnya di masa depan sebagai media komunikasi utama, yang menawarkan berbagai kemudahan di dalam aspek kehidupan sosial, termasuk kehidupan politik dan demokrasi. Teknologi diharapkan bisa menjadi sebuah kekuatan baru yang dapat menciptakan iklim politik yang lebih baik, khususnya dalam upaya pemberdayaan masyarakat sipil di dalamnya. Teknologi informasi semisal cyberspace dianggap sebagai saluran komunikasi yang berjangkauan luas, yang diharapkan akan menjadi ruang publik ideal dalam menopang kehidupan berpolitik.
Jurgen Habermas mendefinisikan ruang public (public sphere) sebagai sebuah arena yang bebas dari kendali pemerintah atau partai politik, yang ditujukan untuk sebuah debat rasional (yang tidak dilandasi kepentingan, kedok, atau manifulasi), yang terbuka bagi pengawasan warga, yang di dalamnya dibentuk opini publik. Ruang publik, dalam hal ini otomatis sebagai ruang tempat terjadinya pertukaran bahasa politik di antara berbagai pihak yang mempunyai peran di dalamnya.
Sifat cyberspace yang mampu menjangkau ruang lebar —yang di dalamnya mencakup massa banyak— otomatis menjadi ranah baru bagi politik yang berhasrat meraih kekuasaan melalui suara publik.  Ruang terbuka cyberspace membuat para politisi gencar berlomba untuk bisa tampil di muka ruang tapal batas itu. Momentum Pilkada menjadikan mereka (calon kepala daerah) semakin trengginas untuk bisa meraih simpatik dan suara publik melalui ruang digital, semisal, Facebook dan Twitter.
Metode kampanye baru melalui ruang digital itu, memang telah terbukti efektif dan efisien. Kesuskesan Obama pada pemilu Amerika Serikat tahun 2008 lalu, menjadi barometer penting mengenai keberhasilan kampanye digital itu. Sebelum pilpres Obama gencar melakukan kampanye politiknya melalui Facebook dan Twitter. Tentu saja jika mengingat para pengguna jejaring sosial di Indonesia yang begitu membludak, hal ini juga akan menjadi sebuah potensi yang luar biasa. Termasuk dalam upaya melakukan pendekatan terhadap publik (calon pemberi suara).
Di dalam ruang digital, sang politisi bisa menempatkan dirinya di dalam satu posisi tertentu — yang membuat ia bisa membagikan informasi sebanyak-banyaknya pada public. Sebagaimana yang ungkapkan Yasraf Amir Piliang (2004), bahwa proses politik tidak dapat dilepaskan dari peran ruang publik (public sphere), yang di dalamnya berlangsung proses pertukaran politik (political exchange) dan komunikasi politik. Sebuah dialetika antara si pemberi informasi (politisi) dan publik (sang calon pemberi suara).
Namun ada yang menarik untuk ditelaah ulang. Ketika media: jejaring sosial dijadikan kendaraan politik, maka kecenderungan akan pengumpatan realitas aslinya akan nampak. Para politisi akan cenderung menghasilkan teks-teks yang baik (pencitraan diri) yang kadang bertolak belakang dengan realitas asli dirinya. Para politisi akan menganggap dirinya sebagai subjek pengirim teks (informasi) tunggal yang menjadikan publik sebagai objek penerima pesan-pesan artifisial itu. Mereka (politisi) akan cenderung ‘memaksa’ publiknya agar memberikan pemaknaan tunggal atas citraan dirinya.
Berbagai pesan, semisal status, atau foto-foto politisi yang terpampang, hanya mempertontonkan citra positif diri, yang tidak lain diperuntukan agar para penonton (public) bisa memberikan pemaknaan positif pula pada dirinya. Politik pencitraan diri itulah yang disebut hiperrealitas oleh Jean Baudrillard. Dalam dunia digital, realitas aslinya dapat disimulasi (direkayasa), yang tentunya bisa menutupi dan mengaburkan realitas kebenaran yang sesungguhnya, sehingga ketimbang menyajikan informasi riil, keadaan ini malah memberikan informasi semu.
 Lemahnya daya kritis publik (masyarakat) dalam menyikapi simulasi informasi seperti itu, akan menempatakan masyarakat pada posisi yang lebih sebagai objek yang diam, yang akan mudah termakan isu simulasi informasi itu, hingga terperangkap dalam skenario politik yang diciptakan orang-orang yang mempunyai kepentingan di belakangnya.  Maka yang harus dihindari adalah keadaan untuk terus-menerus menjadi konsumer informasi lalu membiasakan diri menjadi produser informasi yang proaktif dalam menangkal, melawan, dan mengkritisi setiap informasi yang datang.
Menjadi pasif dalam memaknai setiap informasi yang datang akan menjadikan pemikiran kita mudah terpengaruh ideologi yang datang melalui pencitraan positif sang pengirimnya. Tentu saja usaha kampanye digital ini menjadi begitu menarik serta efektif bagi mereka yang ingin meraih kekuasaan politis, sekaligus menghindari berbagai pelanggaran kampanye yang biasa terjadi ketika sang calon melakukan kampanye nyata dan langsung bertegur-sapa dengan massa di dunia nyata. Pembaca yang cerdas tentu saja akan mengkaji ulang setiap informasi yang ada dengan melihat track record sang pengirimnya. Memang mudah untuk bisa memberikan citra positif diri melalui retorika manis dengan beberapa kata saja, namun ketika telah sukses duduk manis di kursi politis, citra positif itu kadang menguap begitu saja. Pada akhirnya, visi-misi adiluhung itu pun hanya janji manis setiap kampanye saja. (Dimuat di HU Inilahkoran)






Penulis, aktivis Go Netika Studies, bergiat di Sasaka dan Forum Alternatif  Sastra (FAS) Bandung