Dari Bandros
hingga BBM
Awan William
Bandros,bandros, bandros….tukang bandros
selalu menyuarakan dagangannya dengan nada setengah berat dan kadang tak jelas
di dengar hingga terkubur bising kendaraan atau suara speaker para penghuni
syamsi….aku setengah insyap setelah sadar sore itu mang bandros hadir. Perut memberi
sinyal lapar ke pusat syaraf. Hingga otak meresponya dengan mebuatku tak mampu
berlama tidur. Setengah lari ku buru- buru mebuka pintu, mang bnadros seolah
tau petanda basaha tubuh seseoorang yang sedang keroncongan sore itu. Dia juga
menatap ke arah pintu yang cukup kuat ku buka, suara engsel yang tak bernada
enak mengagetkannya.
Tatapannya sama sekali samar ku lihat. Wajah
tirus yang mungil itu, hampir seluruhnya tertutup topi lusuh yang agak besar
untuk ukuran kepalnya. Hanya dengan kumis yang agak tebal serta senyum yang
sedikit simpul pada setiap pembeli yang menjadi siri khas si mang. Aku menacari
lembaran uang kecil di saku celana yang menempel di paku persis sebelah kanan
kasusrku. Ku buka dompet, dan yang terlihat selembar uang kertas berwarna biru nominal
50.000, dan satu lagi uang pecahan 20.000 ribu yang melilit di tengah dompetku.
Kembali ku tutup dompet, mencari pecahan kecil uang ribuan, karena sadar jika
aku menyimpan beberapa ribuan di saku depan. 4 ribu rupiah ku bawa, dengan dua
receh silver 500 an. Serta ku cari celana training ku, karena tidur siang ini
hanya dengan celana kolor saja. Aku mendekati si mang, suara adonan yang
meletup – letup seolah pertanda siap dihidangkan. Di pojok yang berlainan, 5-10
biji bandros tergelatak dingin, sisa adonan yang tak terbeli oleh orang. “ di
makan di sini?” sautnya langsung bertanya… “ iya, pak” jawabku dengan nada
ba’da tidur…dia buka tutup adonannya, asapp langsung berhamburan bubar ke atas,
adonan pun berhenti meletup- letup..dia pilih, adona yang paling matang. Dengan
besi kurus melengkung menyerupai lilitan ular yang sering dilihat di
apotik.
Dia siapkan Koran yang terpotong selayak
kubus. Dia asingkan enam buah bandros yang menggasap. “ pakai saos atau gula”
dia menawarkan. “Campur pak” pintaku… hanya semenjak di bandung saja, aku tahu
jika bandrospun biasa dihidangkan bersama gula. Semenjak itu, aku yang cukup
doyan dengan makanan manis, jadi sedikit bergairah menikmati bandros setiap si
mang nongol ke syamsi.
Pas sekali momentumya, perutku yang sedang
lapar dengan kedatangan si mang. “ med..med…med, bandros“ aku memanggil memed.
Dia sedang asyik dengan music Jepangnya di kamar. Dia memyaut dua kali namun
tak ada respon lanjutan. Dia keluar, tumben dia telihat rapi dengan kemeja
hitam di sore hari. Dia mengambil dua bandrosku, lalu melangkah lagi menuju ke luar
gerbang syamsi. “ dua ja mang” dia menoleh kearahku..”oke”.
Aku duduk diantara dua box tanggungan si
mang, setengah meneonjorkan kaki, celana ku serupa bukit
biru dongker. Mang bandros mebuka
box tempat kompor. Sedikit mengecilkan api adonannya, menariknya ke bawah,
namun agak kesusahan ada karat pada alat pengontrol apinya. Dia gunakan alat
pencukil bandrosnya. Agak heran melihat kompornya. Mngingat tahun 2010 lalu
sejarah berubah, minyak tanah menjadi barang yang langka. Semenjak kebijakan
pemerintah meng-konversinya ke LPG.
Hingga tak heran jika mayoritas pedangang kaki ,lima sekarang selalu
disertai benda bulat hijau di bagian belakang rodanya. Gas ukuran 3 kilogram
itu menjadi bahan bakar baru bagi para pedangan yang menghidangkan produknya
dengan memasak terlebiih dahulu. Tukang cilok, batagor, cireng, dan berbagai
penjual makanan lain.
“Berapa
liter pak sehari, minyak tanahnya?” Tanya, dengan nada penasaran
Dia menjawab disertai senyum,, “ 1 liter ja
A” cukup mengagetkanku, dari tengah hari sampai menjelang maghrib, satu liter
bisa mneghidangkan puluhan atau mungki ratusan bandros jika si mang sedang
beruntung. “Berapa sekarang per liternya?”
“ 11 ribu” dia menjawab dengan segera. Sedikti mnaggetkan, harga minyak
tanah zaman ini, luar biasa. Seingatku dulu, ketika kebanykan warung masih
menjajakannya, harganya 2.700 ja. Aku masih ingat kala sore-sore ibu menyurh
membeli minyak tanah untuk kompor yang sedang dipakai masak. Bi Sukanah, salah
satu penjual minyak tanah termurah di desaku. Dia yang menjadi langganan setiap
minyak tanah yang dibutuhkan orang-orang. Tak heran jika wanita paruh baya itu
selalu mendapat distribusi lebih dari agen minyak tanah.
Dia kemabli ternsenyum, entah apa yang ada
dibalik senyumnya..”entah mungkin, beberapa hari kedepan harganya akan naik
lagi A, apalagi pemerintah berenacan menaikan harga BBM bulan depan” senyumnya
memebrikan penanda ironis..aku terhentak, selayak aku terbangunkan dengan suara
bernada tinggi. Bandros di tanganku, seolah menjadi masam. Gula seolah tak
berasa, saus ini menjadi kecut. Tentu saja, kenaikan BBM ini, akan menjadi
sebuah efek domino. Harga – arga akan melambung lebih tinggi, meninggikan angka
kemiskiana Indonesia. Meninggikan harga
sembako yang akan semakin tak terjangkau para “mustad affin”. Mungkin pula
pergeseran status social. Kaum mengenah masyarakat bertitel baru yang lebih
rendah, ketika beras sudah tak terjangkau uang mereka. Makanan utama juga
dikonversi ke umbi. Ataupun para
peng-konsumsi aking akan lebih banyak dari sebelumnya. Gizi buruk merebak,
angka kematian karna lapar meninggi. Dan karna lapar pula, perut kadang
menengelamkan iman dan logika, hingga kriminalitas menjadi jalan terkahir demi
perut.
Aku tak tahu apakah kebijakan ini demi rakyat
pula. Yang pasti rakyat pasti akan menyuarakan nada nengative perihal rencana
itu. Demonstrasi mahasiswa tentunya akan mejadi pemndangan biasa lagi. Jalan-
jalan akan kembali dipenuhi teriakan- teriakan yang bernada kritis pada
pemerintahan SBY-Budiono ini. mungkin sekarang wacana itu masih menjadi topic
panas di kalanagan politisi DPR sana. Apakah akan disepakati atau enggaknya
tergantung dari pada suara bersama para punggawa pembawa suara rkayat itu.
Entah logika mana yang dipakai pemerintah. rakayat kecil tak muluk dengan mimpi
mereka, cukup dengan sandang, pangan dan papan yang terpenuhi, merekapun akan
menebarkan senyum riang pada pemerintah. Indikator yang sebnarnya sangat
sederhana bagi logika, namun berat bagi mereka yang terlalu pintar dengan
teori.
“entah apa
yang bisa emang laukann jika harga minyak ini meninggi, mungkin emang pulang ke
Garut, menjadi kuli serabutan ja di
sana”. Suaranya sedikit terpatah-patah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar