Minggu, 22 April 2012

Dari Bandros hingga BBM


Dari Bandros hingga BBM
Awan William
Bandros,bandros, bandros….tukang bandros selalu menyuarakan dagangannya dengan nada setengah berat dan kadang tak jelas di dengar hingga terkubur bising kendaraan atau suara speaker para penghuni syamsi….aku setengah insyap setelah sadar sore itu mang bandros hadir. Perut memberi sinyal lapar ke pusat syaraf. Hingga otak meresponya dengan mebuatku tak mampu berlama tidur. Setengah lari ku buru- buru mebuka pintu, mang bnadros seolah tau petanda basaha tubuh seseoorang yang sedang keroncongan sore itu. Dia juga menatap ke arah pintu yang cukup kuat ku buka, suara engsel yang tak bernada enak mengagetkannya.
Tatapannya sama sekali samar ku lihat. Wajah tirus yang mungil itu, hampir seluruhnya tertutup topi lusuh yang agak besar untuk ukuran kepalnya. Hanya dengan kumis yang agak tebal serta senyum yang sedikit simpul pada setiap pembeli yang menjadi siri khas si mang. Aku menacari lembaran uang kecil di saku celana yang menempel di paku persis sebelah kanan kasusrku. Ku buka dompet, dan yang terlihat selembar uang kertas berwarna biru nominal 50.000, dan satu lagi uang pecahan 20.000 ribu yang melilit di tengah dompetku. Kembali ku tutup dompet, mencari pecahan kecil uang ribuan, karena sadar jika aku menyimpan beberapa ribuan di saku depan. 4 ribu rupiah ku bawa, dengan dua receh silver 500 an. Serta ku cari celana training ku, karena tidur siang ini hanya dengan celana kolor saja. Aku mendekati si mang, suara adonan yang meletup – letup seolah pertanda siap dihidangkan. Di pojok yang berlainan, 5-10 biji bandros tergelatak dingin, sisa adonan yang tak terbeli oleh orang. “ di makan di sini?” sautnya langsung bertanya… “ iya, pak” jawabku dengan nada ba’da tidur…dia buka tutup adonannya, asapp langsung berhamburan bubar ke atas, adonan pun berhenti meletup- letup..dia pilih, adona yang paling matang. Dengan besi kurus melengkung menyerupai lilitan ular yang sering dilihat di apotik.  
Dia siapkan Koran yang terpotong selayak kubus. Dia asingkan enam buah bandros yang menggasap. “ pakai saos atau gula” dia menawarkan. “Campur pak” pintaku… hanya semenjak di bandung saja, aku tahu jika bandrospun biasa dihidangkan bersama gula. Semenjak itu, aku yang cukup doyan dengan makanan manis, jadi sedikit bergairah menikmati bandros setiap si mang nongol ke syamsi.
Pas sekali momentumya, perutku yang sedang lapar dengan kedatangan si mang. “ med..med…med, bandros“ aku memanggil memed. Dia sedang asyik dengan music Jepangnya di kamar. Dia memyaut dua kali namun tak ada respon lanjutan. Dia keluar, tumben dia telihat rapi dengan kemeja hitam di sore hari. Dia mengambil dua bandrosku, lalu melangkah lagi menuju ke luar gerbang syamsi. “ dua ja mang” dia menoleh kearahku..”oke”.
Aku duduk diantara dua box tanggungan si mang, setengah meneonjorkan kaki, celana ku serupa  bukit  biru dongker.  Mang bandros mebuka box tempat kompor. Sedikit mengecilkan api adonannya, menariknya ke bawah, namun agak kesusahan ada karat pada alat pengontrol apinya. Dia gunakan alat pencukil bandrosnya. Agak heran melihat kompornya. Mngingat tahun 2010 lalu sejarah berubah, minyak tanah menjadi barang yang langka. Semenjak kebijakan pemerintah meng-konversinya ke LPG.  Hingga tak heran jika mayoritas pedangang kaki ,lima sekarang selalu disertai benda bulat hijau di bagian belakang rodanya. Gas ukuran 3 kilogram itu menjadi bahan bakar baru bagi para pedangan yang menghidangkan produknya dengan memasak terlebiih dahulu. Tukang cilok, batagor, cireng, dan berbagai penjual makanan lain.
“Berapa liter pak sehari, minyak tanahnya?” Tanya, dengan nada penasaran
Dia menjawab disertai senyum,, “ 1 liter ja A” cukup mengagetkanku, dari tengah hari sampai menjelang maghrib, satu liter bisa mneghidangkan puluhan atau mungki ratusan bandros jika si mang sedang beruntung. “Berapa sekarang per liternya?”  “ 11 ribu” dia menjawab dengan segera. Sedikti mnaggetkan, harga minyak tanah zaman ini, luar biasa. Seingatku dulu, ketika kebanykan warung masih menjajakannya, harganya 2.700 ja. Aku masih ingat kala sore-sore ibu menyurh membeli minyak tanah untuk kompor yang sedang dipakai masak. Bi Sukanah, salah satu penjual minyak tanah termurah di desaku. Dia yang menjadi langganan setiap minyak tanah yang dibutuhkan orang-orang. Tak heran jika wanita paruh baya itu selalu mendapat distribusi lebih dari agen minyak tanah.
Dia kemabli ternsenyum, entah apa yang ada dibalik senyumnya..”entah mungkin, beberapa hari kedepan harganya akan naik lagi A, apalagi pemerintah berenacan menaikan harga BBM bulan depan” senyumnya memebrikan penanda ironis..aku terhentak, selayak aku terbangunkan dengan suara bernada tinggi. Bandros di tanganku, seolah menjadi masam. Gula seolah tak berasa, saus ini menjadi kecut. Tentu saja, kenaikan BBM ini, akan menjadi sebuah efek domino. Harga – arga akan melambung lebih tinggi, meninggikan angka kemiskiana  Indonesia. Meninggikan harga sembako yang akan semakin tak terjangkau para “mustad affin”. Mungkin pula pergeseran status social. Kaum mengenah masyarakat bertitel baru yang lebih rendah, ketika beras sudah tak terjangkau uang mereka. Makanan utama juga dikonversi ke umbi.  Ataupun para peng-konsumsi aking akan lebih banyak dari sebelumnya. Gizi buruk merebak, angka kematian karna lapar meninggi. Dan karna lapar pula, perut kadang menengelamkan iman dan logika, hingga kriminalitas menjadi jalan terkahir demi perut.
Aku tak tahu apakah kebijakan ini demi rakyat pula. Yang pasti rakyat pasti akan menyuarakan nada nengative perihal rencana itu. Demonstrasi mahasiswa tentunya akan mejadi pemndangan biasa lagi. Jalan- jalan akan kembali dipenuhi teriakan- teriakan yang bernada kritis pada pemerintahan SBY-Budiono ini. mungkin sekarang wacana itu masih menjadi topic panas di kalanagan politisi DPR sana. Apakah akan disepakati atau enggaknya tergantung dari pada suara bersama para punggawa pembawa suara rkayat itu. Entah logika mana yang dipakai pemerintah. rakayat kecil tak muluk dengan mimpi mereka, cukup dengan sandang, pangan dan papan yang terpenuhi, merekapun akan menebarkan senyum riang pada pemerintah. Indikator yang sebnarnya sangat sederhana bagi logika, namun berat bagi mereka yang terlalu pintar dengan teori. 
“entah apa yang bisa emang laukann jika harga minyak ini meninggi, mungkin emang pulang ke Garut,  menjadi kuli serabutan ja di sana”. Suaranya sedikit terpatah-patah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar