MONOLOG SI MALIN
Awan William*
Ah aneh, aku tak merasa seperti di rumah sendiri. Celetuk Malin. Aku lahir di sini, namun Emak entah kenapa seolah tak ingin mengurusiku dengan baik lagi. Emak punya sikap sendiri. Emak tak mau aku membangkang. Karena membangkang berarti aku siap dimusuhi. Katanya sudah 10 tahun Emak tak punya anak yang semembangkang aku. Kakakku yang dulu, selalu berteriak, memakai megafon sambil naik di atas meja menghadap ke depan rumah. Suaranya membuat Emak kalang kabut, kakak memakai dasi, berlagak laiknya seorang ketua. Aku melihat potretnya, dia arahkan telunjuknya ke depan. Ah, emak tak lupa dengan kakakku itu, dia sekarang jadi guru bahasa Inggris sempat dia tandang ke rumah kemarin-kemarin, Emak tergagap salah tingkah.
Kakakku luar biasa, dia pernah menjadi murid paling beken se-sekolah. Dia disanjung, dia dipuja. Dia menjadi siswa paling hebat, hingga ketika kelulusan dia berpidato di atas podium. Dia hebat, dia berani. Ketika acara perpisahan itu, tiba-tiba kakak melihat gerombol orang berdemo, penuh amarah, berteriak-teriak kepada pak kepala sekolah. Kakak diajak mereka, kakakpun turun, kaka berorasi, kaka berteriak lantang, suaranya menggelegar menjelma gema, mengguncang sekolah khususnya rumah Emak. Kakak melepas topi berlambang sekolahnya. Dia injak topi itu di depan pak kepala sekolah, diguyur bensin dan byur, api merah membumbung tinggi sekejap melahap topi pesta itu. Tapi, kakak kurang beruntung, ada si juru berita di sana, gambar si kakak paginya nampang di koran, menjadi headline. Ah sial, kakak dipanggil pak kepala sekolah.
Dia diberi hadiah, surat untuk Emak. Emak tahu. Emak marah besar. Emakpun kalap. Kakak langsung diusirnya dari rumah, padahal kakak sosok yang bagus buat adik-adiknya. Dia kakak yang memberi kami inspirasi, dia yang mengajar kami menulis dan membaca dengan baik. Aku masih menyimpan tulisannya, tulisannya tajam, dan salah satu korbannya seniman asal Cirebon itu. Aku semakin bangga pada kakakku itu. Entah kenapa Emak tak suka dengan kakak. Kata Emak, kakakku itu pembangkang, dia selalu melawan. Aku tak percaya dengan celoteh Emak, dia hanya Emak yang ingin anaknya duduk manis di rumah, mendengarnya ceramah, lalu Emak akan kasih mereka rupiah.
Adik-adikku memang “baik”. Mereka tak ingin membuat Emak marah. Mereka si penurut. Setiap kali aku mengajak mereka berbincang, mereka tak mau. Mereka hanya ingin jika aku dan mereka berbincang di rumah dilihat emak, supaya bisa dapat uang jajan, katanya. Ah, gak rame, makanya aku tak betah di rumah. Aku main ke tetangga. Di sana aku terasa meraja. Aku disambut bak anak mereka. Setiap kamis ata jum’at aku bermain di sana, aku bisa bebas bermain, berbincang dengan mereka, membaca puisi, menonton film. Ibu mereka sungguh baik, katanya aku harus setiap minggu bertandang, ibu itu akan siapkan potret besar tentangku, dia akan memberi ruang untukku berkarya dan menulis. Aku menulis. Karena bagiku menulis bak “masturbasi”, mengeluarkan semua hasrat diri, melalui imaji dan fantasi. Dan tulisanlah yang jadi anak kreatifitasku itu. Tak berkarya berarti mati berdiri, tak mau jika hanya ada tulisan di nisan nanti.
Entah sampai kapan rumah menjadi begitu asing buatku. Aku hanya anak yang sepertinya salah asuh. Atau mungkin aku sebenarnya bukan anak Emak? Atau jangan-jangan aku anak yang tertukar? (seperti judul sinetron). Aku lahir di rumah ini, tapi jasadku tak seperti adik-adikku. Aku memang serupa kakakku yang lahir 10 tahun dulu. Makanya aku selalu dekat dengan mereka, meminta saran. Wejangan mereka menjadi celoteh asyik pengantar berkarya. Yah mungkin suatu nanti aku kan disumpahi Emak, aku kan membatu. Tapi Emak takkan kuasa membatukan jiwa dan karyaku.
Oh, iya kemarin aku punya teman baru, Wiro namanya. Dia ku kukenalkan pada Bacon juga. Celoteh wiro yang intinya sama denganku, diapun merasa asing di rumah. Mimpi sebelum turun gunungnya tak serupa dengan apa yang dia bayangkan, karena itu dia gemar bernyanyi Peterpan “Khayalan Tingkat Tinggi” itu. Baconpun mengamininya, kita asing di rumah. Itulah kenapa aku, Wiro, dan Bacon selalu bersuara keras. Meneriakan semua keanehan ini. Tapi rumah tetap rumah, dia buta dan tuli nampaknya. Sekeras apapun suara, tetap hanya akan jadi angin lalu. Sekeras Bacon yang doyan nyanyi Jessie J “It’s not about the money,money,money//we don’t need your money,money,money// we just wanna make the world dance” ya, kita hanya ingin rumah bergoyang saja, menggoyangkan semua gairah yang ada. Bukan rumah yang terus pasif, tak berkelamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar