Sabtu, 16 Juni 2012

Resensi Antologi Puisi "Nisan di Kota Api"


Kemajemukan yang Kontemplatif
Oleh Asep Gunawan

Pada dasarnya, puisi terlahir dari pengalaman estetis sang pengarangnya. Sebuah pengalaman yang diramu dengan olah bahasa yang lihai, sehingga akan terlihat begitu menarik ketika hasil pengindraan atas realitas itu dibingkai dengan diksi-diksi menawan. Terlepas dari bagaimana sang pengarang membahasakan pengalamannya, ada simbol-simbol dari tiap diksi yang dipakainya, yang dimaksudkan untuk membagi nilai rasa atau merepresentasikan maksud dari apa yang dirasa oleh si empunya puisi. Oleh karena itu, dari simbol  yang dilemparkan si pengarangnya, terdapat makna yang siap ditangkap oleh sang pembacanya, untuk ditafsir dan didekati pemaknaannya.
Dalam memaknai puisi, kita tak bisa terlepas dari tema yang diutarakan oleh sang pengarang. Untuk menangkap tema yang secara eksplisit diutarakan itu, bisa dilacak dari bagaimana si pengarang mengutarakan suasana batinnya melalui penggunaan diksi-diksi yang terpilih. Tentunya, penggunaan diksi tersebut bukan hanya untuk memenuhi nilai estetis semata, namun lebih pada bagaimana diksi itu bisa menghadirkan ruh pada puisinya.
Menarik ketika saya membaca Antologi puisi berjudul “ Nisan di Kota Api”. ketika membacanya, saya seolah dibawa ke ranah puitis puisi yang begitu kaya dengan tema. Ada kurang lebih 40 puisi yang tersaji dalam buku ini. Tema yang disuguhkan dua penyair kontemporer Bunyamin Fasha (BF) dan Pungkit Wijaya (PW) ini, memberikan suguhan tematis yang begitu majemuk. Kolaborasi keduanya memberikan nuansa yang begitu kaya dengan pengalaman estetis masing-masing. Dengan lihai kedua penyair ini membawa saya pada realitas keseharian yang bernilai kontemplatif. Kejadian-kejadian yang biasa kita temui sehari-hari menjadi bahan perenungan yang mendalam. Dan tentunya, hal itu dikemas dengan gaya penceritaan masing-masing. Jika BF mengemas puisinya melalui gaya sederhana dengan sisipan unsur romantisismenya, maka PW memilih membahasakan puisinya melalui gaya ekspresif yang disertai  simbol-simbolnya yang kuat.
Pada puisi BF yang berjudul “Tubuhku Menjelma Hujan” ada nuansa kegalauan si aku lirik pada puisi ini. //Tubuhku menjelma hujan//Merintik di genting-genting rumah//Meresap di akar lumut yang tumbuh di sela-sela//Atap.// Aku terus mengelana, mengenal retakan tembok, cat //Yang mulai memudar, dan mencium bau bekas jejak tikus.//Lalu Cuaca semakin pudar, mendidis mimpi yang tersesat.//Tubuhku menjelma hujan//Dari genting tergelincir jatuh ke tanah. Menciprat rerumputan, ditangkap //Kelopak kembang. //Cuaca menjadi lanau.//Menjelma hujan, tubuhku terus meliuk ke selokan. //Menggenang di hati dangau//Meriak, mericik, lalu mengendap di Muara/./ Aku pun berputar-putar; Risau.
Pada puisi yang satu ini, BF menjelmakan si aku lirik ke dalam wujud hujan. Kegamangannya menjadikan hujan itu mengalir tak jelas arah—hanya berputar-putar—tanpa menuju ujung kepastian.  Ada nuansa kontemplasi yang begitu nyata dalam puisi ini. bagaimana  BF memberikan ruang perenungan pada pembacanya tentang hakikat hidup. Hujan yang turun diasosiasikan dengan kelahiran manusia ke dunia, yang pada intinya BF mengisyaratkan bahwa hidup merupakan sebuah perjalanan tak henti —proses pencarian hakikat hidup—yang kadang menemui terjalnya jalan. BF dengan piawai membungkus nilai adiluhung itu melalui gaya romantiknya, terbukti dalam kebanyakan puisi BF selalu ada unsur alam yang hadir terutama kata “hujan”. Paling tidak ada 19 kata “hujan” dalam puisi yang termaktub dalam buku ini. Entah ada semacam daya “magis” apa yang membuat BF begitu doyan memasukan kata hujan dalam puisi-puisinya. Namun, kata hujan selalu ada kesamaan asosiasi antara satu dan yang lainnya. Jika dalam “Tubuhku Menjelma Hujan” ada nuansa galau di dalamnya, pun hal yang sama ditemukan pula pada puisinya yang berjudul “Dalam Hujan” hujan, seolah hidup dan  terisak meratapi berbagai keadaan, yang diamini oleh si Aku lirik yang memasrahkan semuanya kepada yang “Tak ada”, //dalam Hujan, yang tetap terisak //ku pasrahkan segalanya //pada yang Tak Ada.
Berbeda dengan BF, PW lebih mengutamakan kesan mendalam tentang apa yang dia rasa melalui simbol-simbol yang merujuk pada romantisme historis. Seperti pada satu puisinya yang dijuduli “Demi Bukit Golgota”. PW, seolah mengajak pembacanya untuk ikut terhanyut dalam lansekap bukit Golgota yang kental dengan nilai historisnya.  Dalam puisinya ini, PW menggambarkan kegamangan pula pada si Aku lirik.  Pada dua baris terakhir, gambaran dilematis itupun seakan dipertegas, “Demi bukit Golgota, kubiarkan diriku menjadi hujan //Menjadi jarum jam yang terpaksa melukaimu”. Ada relasi yang terjadi antara si Aku lirik dengan orang kedua yang diwakilkan dengan kata ganti “mu”. Semacan hubungan dekat namun, ada kondisi yang membuat si Aku lirik terpaksa melukainya. Kemudian kegalauan seperti itupun bisa ditemukan pada puisinya yang lain seperti, “Santiong”, “Langit Kurusetra” dan “Di kota Api” yang menjadi bagian dari judul buku ini.
Terlepas dari nuansa galau yang dinarasikan oleh kedua penyair ini, ada semacam nilai profetik yang membuat pembacanya dibawa ke ranah kontemplatif—memikirkan pemaknaan atas hidup—atau kalau meminjam istilah Kuntowijoyo mah ada unsur transendentalnya.
            Namun pembacaan saya pada buku antologi puisi ini, seolah sedikit terganggu oleh kesalahan elementer penulisan yang luput dari proses editing. Semisal kata matari (hal:16, bait: 4, baris: 1) yang dimaksudkan BF mungkin kata “matahari”, kemudian pada kata “meringgis” (hal: 62, bait: 6, baris: 4) yang dimaksudkan PW mungkin kata “meringis”. Kesalahan elementer tersebut mengindikasikan proses editing yang terlalu terburu-buru, hingga banyak diksi yang tak terbaca dengan cermat. Namun, terlepas dari itu semua, puisi karya penyair berbeda generasi ini, patut mendapat tempat di benak para penikmat puisi dan tentunya bisa mengisi rak khazanah kesusastraan Indonesia. Mengingat, eksplorasi gaya keduanya yang cukup menawan dalam puisi-puisinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar