Kemajemukan yang Kontemplatif
Oleh Asep Gunawan
Pada dasarnya, puisi terlahir dari pengalaman
estetis sang pengarangnya. Sebuah pengalaman yang diramu dengan olah bahasa
yang lihai, sehingga akan terlihat begitu menarik ketika hasil pengindraan atas
realitas itu dibingkai dengan diksi-diksi menawan. Terlepas dari bagaimana sang
pengarang membahasakan pengalamannya, ada simbol-simbol dari tiap diksi yang
dipakainya, yang dimaksudkan untuk membagi nilai rasa atau merepresentasikan
maksud dari apa yang dirasa oleh si empunya puisi. Oleh karena itu, dari simbol
yang dilemparkan si pengarangnya,
terdapat makna yang siap ditangkap oleh sang pembacanya, untuk ditafsir dan
didekati pemaknaannya.
Dalam
memaknai puisi, kita tak bisa terlepas dari tema yang diutarakan oleh sang
pengarang. Untuk menangkap tema yang secara eksplisit diutarakan itu, bisa
dilacak dari bagaimana si pengarang mengutarakan suasana batinnya melalui
penggunaan diksi-diksi yang terpilih. Tentunya, penggunaan diksi tersebut bukan
hanya untuk memenuhi nilai estetis semata, namun lebih pada bagaimana diksi itu
bisa menghadirkan ruh pada puisinya.
Menarik
ketika saya membaca Antologi puisi berjudul “ Nisan di Kota Api”. ketika
membacanya, saya seolah dibawa ke ranah puitis puisi yang begitu kaya dengan
tema. Ada kurang lebih 40 puisi yang tersaji dalam buku ini. Tema yang disuguhkan
dua penyair kontemporer Bunyamin Fasha (BF) dan Pungkit Wijaya (PW) ini,
memberikan suguhan tematis yang begitu majemuk. Kolaborasi keduanya memberikan
nuansa yang begitu kaya dengan pengalaman estetis masing-masing. Dengan lihai
kedua penyair ini membawa saya pada realitas keseharian yang bernilai
kontemplatif. Kejadian-kejadian yang biasa kita temui sehari-hari menjadi bahan
perenungan yang mendalam. Dan tentunya, hal itu dikemas dengan gaya penceritaan
masing-masing. Jika BF mengemas puisinya melalui gaya sederhana dengan sisipan
unsur romantisismenya, maka PW memilih membahasakan puisinya melalui gaya
ekspresif yang disertai simbol-simbolnya
yang kuat.
Pada puisi BF yang berjudul “Tubuhku Menjelma Hujan” ada nuansa
kegalauan si aku lirik pada puisi ini. //Tubuhku
menjelma hujan//Merintik di genting-genting rumah//Meresap di akar lumut yang
tumbuh di sela-sela//Atap.// Aku terus mengelana, mengenal retakan tembok, cat //Yang
mulai memudar, dan mencium bau bekas jejak tikus.//Lalu Cuaca semakin pudar,
mendidis mimpi yang tersesat.//Tubuhku menjelma hujan//Dari genting tergelincir
jatuh ke tanah. Menciprat rerumputan, ditangkap //Kelopak kembang. //Cuaca
menjadi lanau.//Menjelma hujan, tubuhku terus meliuk ke selokan. //Menggenang
di hati dangau//Meriak, mericik, lalu mengendap di Muara/./ Aku pun
berputar-putar; Risau.
Pada puisi
yang satu ini, BF menjelmakan si aku lirik ke dalam wujud hujan. Kegamangannya
menjadikan hujan itu mengalir tak jelas arah—hanya berputar-putar—tanpa menuju
ujung kepastian. Ada nuansa kontemplasi
yang begitu nyata dalam puisi ini. bagaimana
BF memberikan ruang perenungan pada pembacanya tentang hakikat hidup.
Hujan yang turun diasosiasikan dengan kelahiran manusia ke dunia, yang pada
intinya BF mengisyaratkan bahwa hidup merupakan sebuah perjalanan tak henti
—proses pencarian hakikat hidup—yang kadang menemui terjalnya jalan. BF dengan
piawai membungkus nilai adiluhung itu melalui gaya romantiknya, terbukti dalam
kebanyakan puisi BF selalu ada unsur alam yang hadir terutama kata “hujan”. Paling tidak ada 19 kata “hujan”
dalam puisi yang termaktub dalam buku ini. Entah ada semacam daya “magis” apa
yang membuat BF begitu doyan memasukan kata hujan dalam puisi-puisinya. Namun,
kata hujan selalu ada kesamaan asosiasi antara satu dan yang lainnya. Jika
dalam “Tubuhku Menjelma Hujan” ada
nuansa galau di dalamnya, pun hal yang sama ditemukan pula pada puisinya yang
berjudul “Dalam Hujan” hujan, seolah
hidup dan terisak meratapi berbagai
keadaan, yang diamini oleh si Aku lirik yang memasrahkan semuanya kepada yang
“Tak ada”, //dalam Hujan, yang tetap
terisak //ku pasrahkan segalanya //pada yang Tak Ada.
Berbeda
dengan BF, PW lebih mengutamakan kesan mendalam tentang apa yang dia rasa
melalui simbol-simbol yang merujuk pada romantisme historis. Seperti pada satu
puisinya yang dijuduli “Demi Bukit
Golgota”. PW, seolah mengajak pembacanya untuk ikut terhanyut dalam
lansekap bukit Golgota yang kental dengan nilai historisnya. Dalam puisinya ini, PW menggambarkan
kegamangan pula pada si Aku lirik. Pada
dua baris terakhir, gambaran dilematis itupun seakan dipertegas, “Demi bukit Golgota, kubiarkan diriku menjadi
hujan //Menjadi jarum jam yang terpaksa melukaimu”. Ada relasi yang terjadi
antara si Aku lirik dengan orang kedua yang diwakilkan dengan kata ganti “mu”.
Semacan hubungan dekat namun, ada kondisi yang membuat si Aku lirik terpaksa
melukainya. Kemudian kegalauan seperti itupun bisa ditemukan pada puisinya yang
lain seperti, “Santiong”, “Langit
Kurusetra” dan “Di kota Api” yang
menjadi bagian dari judul buku ini.
Terlepas
dari nuansa galau yang dinarasikan oleh kedua penyair ini, ada semacam nilai
profetik yang membuat pembacanya dibawa ke ranah kontemplatif—memikirkan
pemaknaan atas hidup—atau kalau meminjam istilah Kuntowijoyo mah ada unsur transendentalnya.
Namun
pembacaan saya pada buku antologi puisi ini, seolah sedikit terganggu oleh
kesalahan elementer penulisan yang luput dari proses editing. Semisal kata matari (hal:16, bait: 4, baris: 1) yang dimaksudkan BF mungkin kata “matahari”, kemudian pada kata “meringgis” (hal: 62, bait: 6, baris: 4) yang
dimaksudkan PW mungkin kata “meringis”. Kesalahan
elementer tersebut mengindikasikan proses editing yang terlalu terburu-buru,
hingga banyak diksi yang tak terbaca dengan cermat. Namun, terlepas dari itu
semua, puisi karya penyair berbeda generasi ini, patut mendapat tempat di benak
para penikmat puisi dan tentunya bisa mengisi rak khazanah kesusastraan
Indonesia. Mengingat, eksplorasi gaya keduanya yang cukup menawan dalam
puisi-puisinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar